Memorabilia

Menapak tilas diri yang bertumbuh kadang seperti membaca prosa. Acapkali saya merindukan momen-momen seperti ini. Saya yang marginal. Yang menepi sendiri. Tak ada yang mungkin diajak bicara. Dengan begini, saya leluasa mengintimidasi pikiran. Mendapati bahwa betapa labilnya saya. Betapa hal-hal yang susah saya pahami datang silih berganti seperti kenapa misalnya saya ditakdirkan terlahir di Indonesia, kenapa sendawa di depan umum dianggap tidak sopan, kenapa wanita perlu menuntut emansipasi, atau kenapa Bu Diono *sebut saja begitu* lebih memilih mengurusi suara azan padahal Bu Diono bukanlah muadzin karena yah Bu Diono adalah ibu-ibu. Hasyah, lupakan!

Continue reading

Posted in Uncategorized | 3 Comments

Nirkumbh

Aroma masakan Timur Tengah tanpa diragukan lagi memang paling juara menggoda hidung saya. Well, mereka adalah bangsa dengan bebumbuan yang jumawa(?). Beragam rempah dari alif sampai ya, dari yang mungkin tak berharga hingga saffron yang harganya setara emas murni, Timur Tengah surganya. Tapi saya, setiap menyantap masakan timur tengah, entah mengapa selalu saja merasa ada yang kurang. Pekat, namun hambar(?). Inilah bedanya dengan masakan orang India. Dengan bumbu yang bersepupuan, saya (mungkin tersugesti) bahwa rasanya selalu pas. Cukup dengan sepotong naan yang plain, lembah Kashmir yang sedang penuh bunga langsung terbayang di depan mata, lengkap dengan Shah Rukh Khan yang sedang bernyanyi sambil berlari-lari mengejar Kajol yang cerah sumringah seperti habis menerima gaji. *Hentikan khayalanmu nak!fokus!fokus!*

Continue reading

Posted in Uncategorized | 6 Comments

kadang

kadang kita bosan
dengan kebosanan
kita ingin keluar
ingin lari
ingin pergi jauh
ingin teriak
lalu beranjak
tapi kemudian kita hanya kembali ke titik awal
kemudian mengulang
bilang,
kalau kita bosan
dengan kebosanan

Posted in Uncategorized | 2 Comments

(masih)meracauceracau

Bumi makin sesak. Spesies manusia berkembang dalam deret ukur. Sementara mortalitas memang punya kecenderungan tak mampu menyaingi natalitas. Kepala yang semakin banyak membuat kompleksitas semakin merangkak levelnya. Sayangnya, memang tidak selalu pada sumbu positif.

Polah pemikiran -positif atau negatif- selalu berkembang secepat bakteri mereplika diri. Saya memang tak perlu khawatir. Karena saya percaya, kebaikan selalu mengimbangi kejahatan. Lalu, kebaikan diciptakan sebagai entitas dengan kediktatoran dan kekuatan absolut, sesuatu “yang selalu menang pada akhirnya”. Seiring dengan kecenderungan semesta untuk melakukan recovery, apapun yang terjadi, pada ujungnya kebaikan,dan segenap faktor positif akan berkuasa. Itu fitrah.

Continue reading

Posted in Uncategorized | 8 Comments

once upon a Friday

Sebelumnya, tulisan ini hanyalah sampah. Maka buanglah sampah pada tempatnya.

~

Tentu saja saya tersulut. Sebagai satu-satunya orang yang percaya hingga ke ubun-ubun bahwa saya keren, pastilah saya ingin membuktikan bahwa kepercayaan saya benar. Lebih kurang begini kata mentor saya waktu itu (semoga Allah merahmatinya), “muslimah itu harus gaul,, jangan ngaku keren kalau ngga up to date sama berita-berita terkini, blablabla,harus sering baca koran, blablabla”.

Pada saat itu, saya mendengarkan dengan mata kriyep-kriyep. Ini indikasi bahwa saya merasa tertohok. Bagaimana tidak? Terus terang, saya tidak suka membaca. Tapi saya masih percaya ini bukan keinginan saya. Ini sindrom yang tak bisa saya kendalikan *alesan*. Jika anda melihat saya sedang membaca buku pada pukul 10.00. Maka, pada pukul 10.10 anda akan melihat saya tertidur pulas tanpa dosa. Dan entah kenapa, saya sepertinya akan merasa sangat bersalah jika membaca koran. Karena saya memegang prinsip: jika keinginan membaca itu datang, yang mana itu sangat langka, saya harus memanfaatkannya untuk membaca buku-buku yang menarik saja.

Continue reading

Posted in Uncategorized | 7 Comments

nol

satu dua tiga empat……. sebelas duabelas tigabelas empatbelas… duasatu duadua……….empat-umm, tadi sudah sampe berapa?argh. boleh saya ulang dari nol???

boleh?huh!

menangis sepanjang jalan itu t*i kucing banget, Jendral!!!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Lindu

Kau kemana saja?

Kau tidak mau lagi ikut tertawa bersamaku?

Menertawakan kita.

Ah, bodoh.

dulu kita hampir tak pernah hanya berdua.

Selalu ada kau, aku dan tawa kita.

Sekarang, aku bahkan tak tahu harus memulai dari mana

Kita jauh

Hanya saling percaya kalau kita akan baik-baik saja

Dan tak ada siapapun akan lupa yang lainnya.

Itu janji kita,

Tanpa kata

Tanpa  kita pernah membuat janji itu bersama.

tuh, aku lucu kan?

iya.

Posted in Uncategorized | 2 Comments