Menapak tilas diri yang bertumbuh kadang seperti membaca prosa. Acapkali saya merindukan momen-momen seperti ini. Saya yang marginal. Yang menepi sendiri. Tak ada yang mungkin diajak bicara. Dengan begini, saya leluasa mengintimidasi pikiran. Mendapati bahwa betapa labilnya saya. Betapa hal-hal yang susah saya pahami datang silih berganti seperti kenapa misalnya saya ditakdirkan terlahir di Indonesia, kenapa sendawa di depan umum dianggap tidak sopan, kenapa wanita perlu menuntut emansipasi, atau kenapa Bu Diono *sebut saja begitu* lebih memilih mengurusi suara azan padahal Bu Diono bukanlah muadzin karena yah Bu Diono adalah ibu-ibu. Hasyah, lupakan!
-
Recent Posts
Archives
- April 2012 (2)
- March 2012 (2)
- February 2012 (1)
- October 2011 (5)
- September 2011 (4)
- August 2011 (2)
- June 2011 (2)
- May 2011 (5)
- April 2011 (6)
- March 2011 (6)
- February 2011 (1)
- January 2011 (4)
- December 2010 (3)
- November 2010 (3)
- October 2010 (3)
- September 2010 (3)
- August 2010 (1)
- July 2010 (3)
- May 2010 (2)
- March 2010 (3)
- January 2010 (2)
- December 2009 (1)
- October 2009 (1)
- August 2009 (3)
- July 2009 (1)
- June 2009 (1)
- May 2009 (1)
- April 2009 (1)
- March 2009 (1)
- February 2009 (2)
- January 2009 (2)
- December 2008 (3)
- October 2008 (2)
- September 2008 (1)
- July 2008 (4)
- June 2008 (1)
- May 2008 (3)
- December 2007 (3)
Meta
-
Blog Stats
- 46,598 hits
-
Recent Comments
Yangie Dwi on Placidus Beie Yangie Dwi on Memorabilia jojo on (masih)meracauceracau sifaconcetta on (masih)meracauceracau bundaki on (masih)meracauceracau -
Top Posts & Pages