Dari Atta, kepada Catung

Dear, Saturnia..

Sejak bayi, saya sudah sering dibawa Ibu menemani Ayah mengamati alam semesta. Saya selalu mengingat saat ayah menunjuk salah satu bintang paling terang di langit. “Bintang yang itu namanya Altair,” kata Ayah. “sama seperti namamu.” Sejak mengetahui nama saya ada di langit sana, ketika menatap langit entah kenapa saya menjadi lebih bahagia. Saya jadi selalu ingin ikut ayah mengamati langit.

Umur saya baru 5 tahun ketika Ayah meminta saya mengintip sesuatu di balik teleskop. “Lihat nak, itu Saturnus!”, kata Ayah. “Ratusan tahun lalu, Galileo dengan teleskop sederhananya sudah melihat ada yang istimewa pada Saturnus. Tapi Galileo belum tahu kalau itu adalah cincin-cincin Saturnus. Ayah tak bisa bayangkan betapa bahagianya Galileo andaikan ia mengintip Saturnus dengan teleskop seperti ini sekarang. Kamu beruntung, Nak. Galileo tidak seberuntung kamu, Atta”. Begitu kata ayah.

Waktu itu saya tidak begitu paham kalimat ayah, saya sibuk memandangi objek terang di tengah lubang intip teleskop. Tidak seperti Altair, tidak seperti bintang-bintang yang pernah saya lihat, objek terang itu aneh dan indah pada saat bersamaan. Bagaimana bisa dia punya cincin-cincin seperti itu?

Dari waktu ke waktu, saya sering ikut ayah mengintip Saturnus. Saya tumbuh besar bersama Saturnus. Dari waktu ke waktu, akhirnya saya mulai mengaguminya.

Sampai suatu hari, Saturnus yang lain datang dalam kehidupan saya. Saturnus yang ini keterlaluan, dia terbit sepanjang siang dan malam. Tapi yang jelas, sejak mengetahui ada Saturnus di muka Bumi, saya lebih bahagia lagi. Saya tidak hanya lebih beruntung daripada Galileo, saya laki-laki paling beruntung di seluruh dunia.

Saturnia,

Mari saya ceritakan kisah lain,

Karl Schwarzschild adalah seorang prodigy, ia bahkan belum genap 16 tahun ketika ia sudah menerbitkan 2 buah publikasi ilmiah tentang mekanika benda langit. Yang spesial tentang Schwarzchild adalah bahwa dialah orang pertama yang menyelesaikan solusi persamaan medan Einstein saat Einstein mengeluarkan teori relativitas umum yang sangat terkenal itu. Taukah, ini masih ada hubungannya denganmu, Saturnia..

Solusi persamaan itu disebut Radius Schwarzchild. Jika sebuah massa dimampatkan sedemikian rupa hingga hanya seukuran Radius Schwarzchildnya, maka kecepatan lepas dari permukaannya akan sama dengan kecepatan cahaya, ia akan menjadi lubang hitam. Ia akan punya gravitasi sedemikian besarnya hingga bahkan cahaya tak mampu lepas darinya. Jika kamu dapat memampatkan Bumi menjadi sebuah bola dengan radius hanya 9 milimeter saja, maka Bumi akan menjadi sebuah lubang hitam.

Saya sempat berpikir bahwa untuk saya, kamu adalah sebuah entitas yang sekurang-kurangnya mendekati Radius Schwarzchild. Saya curiga kamu berasal dari materi entah apa yang kemudian memampat menjadi kamu yang saya tau. Saya tak pernah punya pengalaman merayu wanita, maka saya hanya berusaha menemukan penjelasan paling rasional. Dan hanya ini yang dapat menjelaskan kepada saya kenapa gravitasimu begitu kuat hingga saya tak bisa lepas. Saya sungguh-sungguh.

Tapi di sisi lain, teori saya malah punya cacat yang menganga. Tidak seperti singularitas yang “hitam kelam”, kamu justru terang benderang, sampai saya tidak mampu memandangmu. Jelaskan pada saya, bagaimana caranya kamu bisa seperti itu, Saturnia?

Terakhir, izinkan saya mengutip Kenneth Lang dalam The Cambridge Guide to the Solar System. Kata Lang, “gerak” lah yang memberikan definisi pada eksistensi segala sesuatu, karena tidak ada satu hal pun dalam keadaan diam. Semua yang ada, atom-atom hingga planet-planet, bintang-bintang hingga galaksi-galaksi, bergerak dalam ruang-waktu. “It is this motion that shapes the Universe, giving it form, structure and texture. When you stop moving it is all over..

Maka mulai hari ini, maukah kamu menemani saya bergerak bersama, saat sedih dan bahagia, memberi tekstur kecil pada ruang-waktu? Saya mohon jangan pernah berhenti, karena begitu kamu berhenti, alam semesta kita akan berakhir.

Saya tidak bisa menjanjikan apapun padamu. Tapi saya sudah berkomitmen pada Tuhan dan pada diri saya sendiri untuk tumbuh bersamamu, mencintaimu, menjagamu, menghabiskan umur saya bersamamu, kemudian ke surga bersamamu.

Mulai hari ini, apakah kamu mau menemani saya mengintip Saturnus dari balik teleskop? Lalu suatu hari nanti, kita ajak anak-anak kita mengintip cincin Saturnus, seperti ayah mengajak saya. Kamu mau kan? Mau ya?

Salam,

Altair

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s