de kleine Prins

Suatu hari yang lampau, ketika saya membaca Le Petit Prince karangan Antoine de Saint-Exupéry, saya seperti membaca diary sendiri. Saya merasa diri saya hidup dalam kalimat-kalimat Monsieur Antoine. Indah, dalam, murni, multitafsir, penuh teka-teki, tanpa merasa perlu untuk menjelaskan apapun pada siapapun. Semoga Monsieur Antoine memaafkan kelancangan saya yang mungkin saja secara tidak langsung telah merendahkan reputasi masterpiecenya karena hal ini.

Tapi itu saya. Yang egois. Untuk hal-hal tertentu, saya lebih suka diam. Saya tidak suka menjelaskan. Jika kamu tidak mengerti, itu urusanmu. Saya tidak peduli. Tuh, Egois kan saya?

Saya juga aneh. Seperti Pangeran kecil. Kamu sudah tau betul, bukan? Seringkali saya merasa hidup dalam dimensi berbeda dengan lebih dari 7.5 milyar penduduk Bumi lainnya. Saya sering merasa zonk saat terjebak dalam obrolan orang dewasa yang melulu serius, melulu goal-minded, seakan-akan semua mesti dikejar, yang tiap kata menyiratkan beban-beban, yang dengan mendengarnya saja saya lelah. Kadang saya curiga, apakah justru otak saya yang telat berkembang?bhaakk.

Tidak. Saya tidak ingin bermudah-mudah. Saya justru ingin menghargai kepayahan dengan cara yang pantas: menikmatinya, menganggapnya tak ada. Maka di saat orang dewasa lainnya sibuk membicarakan bagaimana menjadi orang paling hebat sedunia, paling produktif sedunia, paling bijak sedunia, paling kaya sedunia, saya masih bertahan di tempat saya saat ini, mengagumi kehidupan, mengagumi langit malam, mengagumi alam semesta dan segala keajaiban di dalamnya. Duh, Yosha yang naif…

Kenapa saya curhat segala ya?wkwk

Anggap saja saya sedang mencari teman yang sehati. Barangkali kamu juga sama seperti saya, yang ketika kamu mencoba mengenali dirimu sendiri, kamu justru tersesat jauh entah kemana. Kamu mau jadi teman saya???

ttd,

yosha yang tak punya teman,

soalnya dia egois.

aneh pula.

kasian.

 

 

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to de kleine Prins

  1. Nururrohmah says:

    “Tidak. Saya tidak ingin bermudah-mudah. Saya justru ingin menghargai kepayahan dengan cara yang pantas: menikmatinya, menganggapnya tak ada. Maka di saat orang dewasa lainnya sibuk membicarakan bagaimana menjadi orang paling hebat sedunia, paling produktif sedunia, paling bijak sedunia, paling kaya sedunia, saya masih bertahan di tempat saya saat ini, mengagumi kehidupan, mengagumi langit malam, mengagumi alam semesta dan segala keajaiban di dalamnya.”

    Teh Ochaaa aku ngerasain ini banget… kadang lelah dengan dunia orang dewasa yang penuh dengan targetannya, serasa mau ngumpet di kolong, berlari ke hutan kemudian ke pantai huhu, namun realitas mengejar lebih cepat dibandingkan larinya kedua kaki. Ah senang sekali ada Little Prince dan dunianya yang tanpa ia sadari ia lebih dewasa dari yg ia pikirkan :’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s