Retrouvailles

Saya pertama kali ke Bosscha tahun 2007, 11 tahun yang lalu. Saat itu bersama Teh Imas, teh Ega, Kang Aisar, Dhila, Findi, Angga, Dodo, entah siapa lagi saya sudah lupa, satu divisi dalam sebuah unit mahasiswa berkunjung ke Bosscha. Meskipun yang pertama kali saat itu, tapi saya merasakan chemistry yang kuat pada tempat ini, kami seperti sudah kenal lama *eluaja,ah*.

Di tahun ke-empat kuliah, saya sepertinya hampir tiap minggu ke Bosscha, dalam rangka mengerjakan Tugas Akhir. Pada saat hampir seluruh teman-teman Teknik Industri yang lain tersebar ke oil and gas company, BUMN-BUMN, atau perusahaan-perusahaan besar lain, saya memilih Bosscha. Nah ya, silahkan bilang saya aneh, muehe. Tapi somehow, saya mengagumi diri sendiri untuk keteguhan hati dalam memperjuangkan apa-apa yang saya cintai serta kemampuan untuk tidak selalu tunduk pada apa-apa yang orang sebut kelaziman.

Bosscha selalu bisa membuat saya bahagia, selalu bisa membuat saya merasa disayang dan dihargai, secara saya haus kasih sayang dan penghargaan. Tiap saya datang kesana, saya pasti senang. Saya baru mencoba menerima kunjungan beberapa kali tapi rasanya sekaya pengalaman sebulan penuh.

Bosscha adiktif dan sekarang saya rindu. Di situ ada ruang baca yang hangat dengan jejeran jurnal ilmiah bergengsi yang dikoleksi puluhan tahun. Jurnal-jurnal yang tebal itu berkontribusi memberi bau yang khas pada udara ruang baca. Dan saya suka. Saya suka ruangan ini bahkan hanya untuk sekedar duduk di sofa nya kemudian memandang ke arah Kerkhoven dan melamun memikirkan sinetron azab di Indosiar *keleus. Sebagai seorang melankolis yang sotoy tapi keren, saya suka sensasi sunyi yang damai, dan Bosscha gak pernah gagal.

Saya suka hanya sekedar berjalan pelan dari pos satpam hingga Koepel pada pagi-pagi yang berkabut sambil memandang agapanthus yang bermekaran. Atau turun ke belakang Kerkhoven mengambil air wudhu dengan air Lembang yang dingin saat toilet di samping Mushola airnya kering. Atau lewat di samping kantor Bu Nana hanya untuk sekedar melihat beliau sibuk memandang layar laptop atau kadang menyapa “Hai Ocha, apakabar?”. Saya suka hanya sekedar mendengar dome Koepel dibuka atau diputar, atau suara lantainya diangkat, padahal saya sudah mendengarnya berkali-kali.

Di samping Koepel, ada jalan setapak kecil menuju Rumah Bu Nana. Setiap melewati jalan itu saya selalu teringat buku-buku Hans Christian Andersen, jalanan kecil itu damai seperti dalam buku dongeng anak-anak. Dari rumah Bu Nana ada jalan setapak lain menuju rumah F, rumah paling ujung dari komplek Observatorium Bosscha. Saya suka berhenti hanya untuk sekedar meniup dandelion-dandelion yang tumbuh liar di sepanjang jalan setapak itu.

Saya juga suka sekali rumah Bu Nana, rumah sederhana yang tenang, tanpa pagar, dengan tanaman-tanaman bunga di depan dan sampingnya, juga halaman belakang luar biasa dengan lembah yang menghadap langsung kota Bandung. Pada malam hari, Bu Nana akan menatap cahaya kota yang gemerlapan dari halaman belakangnya, lalu akan dipenuhi perasaan-perasaan dilematis, andai saja langit lebih gelap sehingga dapat memandang bintang-bintang bertaburan di angkasa.  Saya merasa Bu Nana dan rumahnya adalah kombinasi yang pas. Dengan rumah seperti itu, semua orang bisa jadi pujangga. Rumah impian saya juga seperti itu, tidak terlalu besar, tanpa pagar, dengan halaman belakang yang luas sekali, di sekelilingnya akan saya tanami pohon favorit saya, pohon kersen,akan saya biarkan pohon-pohon itu tumbuh tinggi dan rindang agar menjadi rumah yang nyaman bagi burung-burung liar. Ah, indahnya.

Saya rindu Bosscha. Bahkan saya sudah rindu Bosscha setiap kali baru mau mesen ojek online untuk turun ke Bandung. Entah saya yang terobsesi, atau memang Bosscha yang begitu adiktif. Entahlah.

 

*Btw, selamat berulang tahun ke 90 tahun, Zeiss! Zeiss sejauh ini teleskop paling besar yang kita punya. Zeiss tinggal di Koepel, Observatorium Bosscha. Saya bangga pernah kenal Zeiss yang sangat berjasa.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s