Kardia

Dari beberapa hari yang lalu, saya merasa ada yang salah dengan kesehatan saya. Jantung berdebar-debar, susah bernafas, dan kadang berkeringat dingin. Saya sudah akan berkesimpulan kalau ini tanda-tanda jatuh cinta kalau saja tidak ada gejala-gejala lain seperti kliyengan, mual, dan sakit sekali di sekitar punggung dan bahu. Alhamdulillah saya jarang sakit, negatifnya, tiap sakit sedikit saya jadi hampir gila. Saya beberapa kali melakukan tindakan-tindakan obsesif kompulsif seperti mengecek artikel di google (yang sialnya tidak malah menenangkan) serta menyenteri hidung untuk memastikan tidak ada sesuatu yang menyumbat (seperti upil yang sudah menjadi fosil misalnya) sehingga saya jadi susah bernafas.

Kemaren sewaktu sedang tilawah setelah selesai sholat maghrib, kliyengan menjadi-jadi, rasanya makin sulit untuk bernafas, saya membaca tiap huruf dengan mengeja nafas satu-persatu sambil menahan keinginan untuk menangis. Saya tutup mushaf dan saya putuskan bahwa ini harus disudahi. Saya perlu ke dokter untuk memastikan bahwa saya baik-baik saja. Dramatis sekali. Harusnya ini jadi salah satu scene di sinetron Cinta Fitri.

Terus terang, pergi ke dokter adalah keputusan yang sulit. Seperti yang saya bilang, saya jarang sakit. Saya dibesarkan di Pariaman, dimana segala macam dedaunan bisa jadi obat. Sepanjang 18 tahun hidup di Pariaman, sepanjang ingatan saya, hanya satu kali saya mengunjungi dokter.Umur 4 atau 5 tahun. Itupun akhirnya pulang tanpa si dokter menyentuh saya sedikitpun. Papa yang panik melarikan saya ke dokter karena waktu itu saya juga susah bernafas. Kali itu saya tau jelas penyebabnya apa ;gumpalan kertas kecil yang saya sumpalkan ke hidung. *busyetdahlucha*. Ceritanya, mama menggambar untuk saya di secarik kertas. Gambar setangkai bunga yang  saya pikir bagus sekali dan membuat saya terobsesi . Maka dengan bijaksana saya putuskan untuk menyimpan secarik kertas itu. Dan tempat paling dekat dan aman yang terlintas di otak saya adalah lubang hidung, mungkin laci terlalu besar. Saya mendorongnya terlalu dalam, dan beberapa menit kemudian saya sesak nafas. Dengan motivasi papa serta usaha keras saya sendiri , akhirnya si kertas itu berhasil keluar bersama ingus saat saya membuang ingus dengan tenaga Hulk yang kekuatannya kira-kira memungkinkan hidung saya ikut copot. Dan itu semua terjadi di depan Rumah Sakit, jadi saya tidak perlu ke dokter.

Selama di Bandung, saya juga jarang ke dokter. Selain karena proses kehamilan dan melahirkan, seingat saya pernah dua kali sewaktu masih kuliah. Yang pertama masih ada hubungannya dengan hidung.  Beberapa hari saya mimisan terus. Setelah cek darah syukurlah ternyata hanya karena cuaca yang kering dan pembuluh darah di hidung saya yang tipis. Karena kasus ini, Mama dengan arif mengkritisi cara mengupil saya yang beliau nilai terlalu rutin dan agresif.

Pertemuan kedua dengan dokter adalah ketika hati wajah saya yang sensitif kena sunburn.Dan ketahuilah dokter kulit berhasil melobangi kantong saya, membuat saya menebus resep yang bernilai hampir sejuta rupiah. Saya jatuh miskin seketika plus kena serangan jantung mendadak serta didera perasaan ingin mencekek seseorang. Pada akhirnya saya memperlakukan obat-obatan itu seperti anak sendiri.  Suer deh, sampai detik ini, pengalaman ke dokter kulit menyisakan trauma mendalam lahir batin,di hati dan di dompet.

Nah, kemaren malam sepanjang perjalanan ke rumah sakit, saya terus mensugesti diri bahwa gejala-gejala yang saya rasakan hanya sugesti . Semacam gejala psikosomatis. Setelah diperiksa di IGD, alhamdulillah suhu tubuh dan tekanan darah normal.  Saya juga sempat tes ECG/EKG untuk memastikan jantung saya baik-baik saja dan Alhamdulillah memang baik-baik saja. Di sinilah dokter yang masih muda dan cool, untuk selanjutnya disingkat dymmdc, yang memeriksa saya menerangkan bahwa yang sesungguhnya terjadi adalah asam lambung saya naik ke atas dan mengakibatkan semua gejala-gejala yang saya rasakan. Saya memang makan tidak teratur, makan hanya kalau ingat, seringkali benar-benar lupa. Lalu seperti kebanyakan orang minang lainnya, saya mengganti makanan pokok dari nasi menjadi cabe kriting. Perut yang kosong dan makanan pedas adalah kombinasi yang pas untuk mengundang gangguan lambung. Dan itulah yang terjadi pada saya. Semacam gejala maag. Yang tak lain adalah maagmud abbas: Mamaag-mamaag muda anak baru satu *krikk*. Tapi sejujurnya bukan itu yang ingin saya sampaikan dari tulisan ini.

Dymmdc sempat menjelaskan bahwa selagi wanita masih mendapatkan siklus bulanannya, selama itu hormon yang sama melindungi jantungnya agar tetap aman. Adalah estrogen, yang menghalangi penyumbatan darah di jantung, yang melindungi jantung wanita dari bahaya. Dymmdc juga menambahkan itu kenapa setelah menopause, resiko penyakit jantung pada wanita meningkat drastis. Itu pula kenapa hampir tidak pernah ada wanita muda yang mati mendadak karena serangan jantung. Dan ketahuilah estrogen punya segudang manfaat lainnya. Dokter Google lebih paham.  And you know, saat mendengar itu jantung saya kembali berdebar tiba-tiba. Kali ini tidak ada hubungannya dengan rasa sakit. Saya jatuh cinta.

Saya kembali jatuh cinta pada Tuhan yang begitu romantis. Bagaimana bisa saya luput dari hal ini sementara saya membaca belasan artikel google tentang penyakit jantung dan berbagai hal yang berhubungan dengannya. Tuhan yang maha pengertian itu tidak hanya memberikan saya sebuah jantung untuk hidup, tapi juga melindunginya dengan sistem yang sempurna. Dia ingin saya tidak memiliki masalah jantung di usia produktif agar saya bisa melakukan banyak hal dengan tenang. Agar saya terhindar dari serangan jantung mendadak ketika mendapati rumah berantakan misalnya. Dia tau betul bahwa wanita butuh untuk menjadi yang paling kuat. Bayangkan, sepanjang 26 tahun lebih saya hidup dan saya baru tau kalau Dia yang menyayangi saya telah menyiapkan hal manis ini sejak awal. Saya membaca banyak hal tentang keajaiban penciptaan yang membuat saya selalu takjub. Tapi kali ini rasa takjubnya berbeda karena saya mengetahuinya di depan mata dalam kondisi yang pas sekali. Saya diliputi sensasi bahagia luar biasa. Campuran perasaan begitu dicintai, begitu diperhatikan, sementara rasanya saya yang lalai dan penuh dosa ini tak layak dicintai. T.T. Ya Allah, betapa kurangnya saya belajar dan bersyukur.

Saya pulang dari rumah sakit dengan rasa lega, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Segalanya sudah diatur. Yang saya butuhkan hanya minum obat, stay calm, banyak-banyak bersyukur dan senantiasa berusaha jadi wanita sholehah. Doakan ya…

Terakhir, ada doa yang ayah saya pernah ajarkan, yang hingga saat ini hampir selalu saya baca tiap melangkahkan kaki keluar rumah, bahwa tidak ada yang mampu membawa mudharat sedikitpun di langit dan di bumi, kecuali atas izin Allah, sesungguhnya Allah Maha mendengar dan mengetahui. Dan Allah Maha menyayangi. Lalu apa lagi yang perlu membuat saya khawatir di dunia fana ini?

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

3 Responses to Kardia

  1. Arina says:

    Semoga selalu diberi kesehatan, Teh Ocha dan keluarga. aamiin.. 🙂

  2. deauror2015 says:

    Ahh uni ocha..tlisanny brhasil mmbuat saya meleleh..

    Saya tau fakta estrogen dan efek proteksi ny tpi yg saya luput a.k.a lupa selama ini bahwa semuanya adalah atas setting an Allah..
    Betapa ruar biasa ny cinta Allah pada makhluk ny yg tak tau diri ini..hiks hiks
    Thnks for the reminder unii..

  3. Dyah says:

    Jadi teh ocha sebenarnya manggilnya papa apa ayah? *salah fokus* 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s