Gravitasi Meda

Langit sore adalah rumah bagi crepuscular. Celah langit yang tak diisi awan membiarkan matahari menerobos dalam pilar-pilar sinar yang menelisik tajam. Dia pernah bilang pada saya, bahwa dia jatuh cinta pada pandangan pertama, pada celah langit yang melewatkan sinar-sinar itu, pada crepuscular.

Sewaktu masih kecil, ia hanya bisa ternganga takjub menyaksikannya. Entah bagaimana dia percaya bahwa pada celah-celah itu doa-doa manusia lewat untuk kemudian membubung ke langit, ke ketinggian yang tak terperi, kata orang yang percaya: ke tempat Tuhan bersemayam. Dan dia, setelah sekian tahun berlalu, setelah begitu banyak yang berubah, setelah melewati berbagai pengalaman dan pembelajaran, tak punya niat sedikitpun untuk mengubah apa yang ia percaya, setidaknya untuk sedikit berpikir rasional. Dia masih percaya pada dongeng crepuscular, dongeng masa kecilnya. Dan saya tidak tertarik mengkritisinya. Saya menikmati keanehannya. Ada sebuah ruang dalam hati saya yang menyisakan tempat khusus untuk keanehan-keanehan itu. Saya tidak pernah ingin ia berubah, saya tak ingin ruang itu kosong.

Angin penghujan bulan Oktober bertiup lemah. Tak ada dedaunan yang sanggup ia buat gugur. Dia masih duduk memeluk kedua lututnya. Sudah lebih kurang 20 menit dia dalam pose itu, tanpa suara. Tak peduli pada rumput yang masih berembun. Kepalanya sedikit menengadah ke langit, matanya menyipit menghindari silau, pandangannya jauh melampaui awan-awan. Dia berburu crepuscular. Saya tidak percaya dia se-FTV itu. Dia betul-betul sinting. Tapi sayapun masih setia dalam pose saya: memandanginya.

Saya pernah bilang kan? Dia punya daya magis. Jika berada di dekatnya, semua hal-hal menarik dalam semesta seperti berpusat pada satu titik: wajahnya. Di sinilah saya sekarang, tunduk pada gravitasinya. Saya dengan tolol memandanginya selama itu. Saya bisa memahami kenapa John Watson dengan sukarela menjadi bayang-bayang Sherlock Holmes. Memang ada tipikal orang-orang seperti itu di dunia ini yang entah bagaimana gravitasinya begitu kuat sehingga kau luluh tak berdaya di hadapannya. Dan saya? Sial. Saya curiga sampai mati akan memandanginya.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s