Popon

“Saya tidak percaya negara agama. Agama tidak perlu negara. Tuhan tidak perlu You”, begitulah kutipan kicauan seseorang yang saya tidak kenal, yang maka untuk keperluan saya,sebut saja namanya Popon. Saya tidak tau apakah redaksi kalimat Popon memang seperti itu atau tidak, saya hanya mengutip dari sebuah media, karena saya tidak punya twitter. Saya juga tidak ingin mengecek kebenarannya karena memang saya tidak seberniat itu.

Jujur, saya pribadi tidak mengetahui apa definisi formal “negara agama”. Tapi jika yang dimaksud Popon adalah negara dengan landasan agama tertentu, maka dengan rendah hati, saya yang naif ini berpendapat bahwa popon telah keliru. Perlu saya luruskan dulu, kalau yang saya maksud dengan yang Popon maksud (?) negara agama adalah bukan sekedar label. Misalnya jika sebuah negara tidak secara de yure menyatakan bahwa ia adalah negara islam, tapi secara de facto menetapkan syariat islam, maka negara tersebut adalah -tetap- negara islam. Maksud saya, kita tidak perlu berubah dulu menjadi ‘Negara Republik Islam Indonesia’ juga sih untuk menerapkan nilai-nilai islami dalam praktik kenegaraan. Jika yang dimaksud Popon dengan “saya tidak percaya negara agama” adalah seperti yang saya jelaskan, maka saya tidak berseberangan dengan Popon.

Nah tapi, kalimat berikutnya dari Popon mengusik saya. Jika kita hapus kalimat pertama, dan kita tidak memandang secara kontekstual, maka “agama tidak perlu negara. Tuhan tidak butuh You” adalah benar. Tapi tunggu dulu. Well, Tuhan memang tidak butuh kita. Kita yang butuh Tuhan, semua theis setuju. Tak ada masalah.

Namun jika kalimat “agama tidak perlu negara. Tuhan tidak perlu You” adalah rasionalisasi Popon untuk mengantitesiskan negara agama, maksud saya negara yang berlandaskan agama, maka kembali, dengan rendah hati, saya bilang logika Popon keseleo. Ini sama saja dengan seseorang yang ketika ditanya “kenapa tidak makan?”, ia menjawab “tidak. makanan tidak butuh saya”. Dalam koridor logika sederhana yang benar, Kenapa A perlu eksis?karena entitas lain, misalnya B, perlu A. Bukan sebaliknya. Get my point?Kalau tidak, ya sudah tidak apa-apa.

Jika saya telaah lebih jauh, kalimat “agama tidak perlu negara” juga sebenarnya keliru. Negara dan agama tidak dihubungkan dalam relasi “keperluan” tentunya. Mungkin saya sudah membuat anda bingung. Tapi saya tidak akan menjabarkan lebih jauh, karena “agama” pun “negara” bisa menjadi sangat amat subjektif, kecuali anda dan saya punya definisi yang sama untuk keduanya. Jadi saya tidak akan buang-buang waktu untuk mendebatkan hal semacam itu.

Intinya, saya ingin katakan bahwa, sebagai seorang yang percaya agama maka saya juga percaya segala hal yang lahir dari agama. Nah, yang saya heran adalah, kenapa beberapa orang panaroid sekali dengan kata “agama”, lebih-lebih mendengar “syariat islam”. Bagian yang paling lucu adalah, beberapa yang paranoid justru adalah orang yang mengaku islam sendiri. Saya tidak mengerti kenapa orang-orang bisa sangat humoris.

Saya paham, hal ini mungkin karena ketidakpahaman. Saya tidak bilang saya paling paham dalam beragama loh ya, tapi memangnya kenapa sih dengan syariat islam? Haha. Seolah-olah jika syariat islam ditegakkan, manusia-manusia Indonesia akan kehilangan hak azasinya yang hakiki, nonmuslim akan termarjinalkan, terjajah, dan kalau bisa jadi romusha, toleransi beragama hanyalah mitos. Ah, padahal siapa yang paling sempurna mencontohkan toleransi selain Muhammad bin Abdullah yang membawa risalah islam?Yang mau-maunya menyuapi-bahkan mengunyahkan makanan-seorang Yahudi yang langganan mencaci dan meludahinya?*Salam ‘alaik ya Rasulullah. Jadi wahai sekalian saudara-saudara seiman, islam TIDAK melulu “perang”. Justru teorinya gampang sekali: jangan campuradukkan urusan aqidah dan muamalah.

Nah jadi, apa yang salah dari negara Islam?Apa yang salah dengan syariat islam?

Well fine, saya sudah berpanjang lebar. Padahal mungkin yang saya tulis tidak penting-penting amat dan tidak menghasilkan apa-apa. Haha.

Terakhir, saya minta maaf kepada Popon. Saya dan Anda hanyalah manusia yang tak luput dari alpa bukan, Pon?

Peace ‘n g4ul, abang Popon:)

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to Popon

  1. kristal says:

    wow! kicauannya bang popon berhasil membuat teh ocha nulis celah langit lagi! *kenapa popon(??)

    yup teh..agama mengatur seluruh sendi kehidupan termasuk kenegaraan. saya juga belum tau persis apa yang dimaksud bang popon dengan negara agama ini.. saya juga sepakat jika yang dimaksud seperti yang ada dalam paragraf 2..

    hihi.
    kenapa kamu ga makan? makanan tidak butuh saya.
    tapi saya butuh makan kan?

    Tuhan tidak butuh kita. tapi kita butuh Tuhan kan?

    hhe. kalimat logikanya bang popon memang agak membingungkan.

    oia, tapi ngecek di twitnya itu membuat kita belajar loh teh 🙂 *walaupun saya ga punya twitter juga sih..
    salim a. fillah mengingatkan lagi melalui kisah abu yusuf dan beberapa tulisannya tentang negara..dan beberapa tulisan lainnya dalam diskusi 🙂

    pada akhirnya, semoga sesama umat muslim bisa saling menguatkan dalam barisan yang kukuh. menjadi cermin ketika salah. mengingatkan dan menasehati dalam kesantunan bahasa. agar perbedaan pemikiran menjadi pembelajaran yang menyatukan. bukan kepentingan memenangkan ego.

    semoga phobia ‘syariat islam’ berubah menjadi kecintaan melalui cerminan islam dalam pemeluknya 🙂

    #kenapasayahjadinulispanjang,ngelanturkemana-manayak.ha.

  2. ekihartari says:

    teh, kenapa nama gantinya harus popon?? -______- kan jadi pengen nyengir-nyengir.. hehehe

  3. drajat says:

    Semoga kita sebagai umat Muslim bisa memberikan contoh akan toleransi,kerukunan dan kekompakan.Terima kasih….

  4. @themulyowidodo says:

    wah ini sih tulisan utk bang FH.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s