Memorabilia

Menapak tilas diri yang bertumbuh kadang seperti membaca prosa. Acapkali saya merindukan momen-momen seperti ini. Saya yang marginal. Yang menepi sendiri. Tak ada yang mungkin diajak bicara. Dengan begini, saya leluasa mengintimidasi pikiran. Mendapati bahwa betapa labilnya saya. Betapa hal-hal yang susah saya pahami datang silih berganti seperti kenapa misalnya saya ditakdirkan terlahir di Indonesia, kenapa sendawa di depan umum dianggap tidak sopan, kenapa wanita perlu menuntut emansipasi, atau kenapa Bu Diono *sebut saja begitu* lebih memilih mengurusi suara azan padahal Bu Diono bukanlah muadzin karena yah Bu Diono adalah ibu-ibu. Hasyah, lupakan!

Lalu betapa perubahan, terus terjadi bahkan tanpa sempat saya sadari. Detik ini, saya tergoda untuk meredefinisi perubahan, sebagai sesuatu yang -seperti bernafas atau mencerna- terjadi di alam bawah sadar. Terdengar pasif. Tapi tentu tidak sama sekali. Saya bingung akan saya bawa kemana prolog ini. Tapi beginilah kerja otak di tempurung kepala saya. Saya pun kadang tak paham.

Otak dan hati bisa saling mengacaukan. Saya agak malu menyimpulkan bahwa mungkin inilah salah satu dampak rindu. Hah. Lagi-lagi apofasis. Berat rasanya bilang rindu. Rindu yang seperti candu. Mengacaukan otak. Sebutlah saya memang sedang merindu. Saya rindu entah pada apa.

Saya pikir, saya bisa sedikit memperbaiki keadaan dengan mencoba melucuti memori satu per satu. Saat saya bingung sendiri memori yang mana dan bagaimana. Saat saya bahkan tau saya akan gagal melakukannya. Tapi rindu, atau cinta, atau suka, atau sayang dan atau hal-hal sejenis yang ramai jadi puisi dan tema lagu-lagu boyband, kadung tak berkawan dengan akal sehat. Makanya saya meresponnya dengan cara-cara primordial seperti ini. Bermelo durja. Lalu seperti tabiatnya, rindu pada akhirnya hanya memberi dua pilihan: menunggu dihapus waktu atau menjadi gila. Untuk kasus saya, saya mungkin mengalami yang kedua.

Ah,biarkanlah otak saya menari bebas seperti balerina.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to Memorabilia

  1. lizamartha says:

    Muncul lagi celahlangit dengan gaya bahasa yang kocak dan inspiratif.

  2. Fie Banaty says:

    Subhanallah mbak.. Celah langitnya asooyy deh.. Nendang kalimat-kalimatnya,.. Muantaab pokoknya. Siip siip,

  3. Yangie Dwi says:

    lo belajar katakata dari mana ya cha?

  4. Karya sastra yang ajib….
    Teruslah Berkaya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s