Nirkumbh

Aroma masakan Timur Tengah tanpa diragukan lagi memang paling juara menggoda hidung saya. Well, mereka adalah bangsa dengan bebumbuan yang jumawa(?). Beragam rempah dari alif sampai ya, dari yang mungkin tak berharga hingga saffron yang harganya setara emas murni, Timur Tengah surganya. Tapi saya, setiap menyantap masakan timur tengah, entah mengapa selalu saja merasa ada yang kurang. Pekat, namun hambar(?). Inilah bedanya dengan masakan orang India. Dengan bumbu yang bersepupuan, saya (mungkin tersugesti) bahwa rasanya selalu pas. Cukup dengan sepotong naan yang plain, lembah Kashmir yang sedang penuh bunga langsung terbayang di depan mata, lengkap dengan Shah Rukh Khan yang sedang bernyanyi sambil berlari-lari mengejar Kajol yang cerah sumringah seperti habis menerima gaji. *Hentikan khayalanmu nak!fokus!fokus!*

Oh,oke. India -dalam hal tertentu- selalu mampu melebihi ekspektasi saya. Agra yang romantis eksotis. Taj Mahal, mahakarya seni pualam berbalut cerita cinta yang tak lekang oleh zaman, Gangga yang tenang, yang seperti tak pernah kenyang menelan abu mayat orang hindustan sejak berabad-abad silam. Dan.. dan.. dan… oke cukup bertele-telenya, dan beberapa filmnya yang mengesankan. haha

Sebut saja salah satunya Taare Zameen Par. Umm.. engg.. sebenarnya mau cerita tentang film ini doang sih. *Hoalahcha!* Yah, mau bagaimana lagi, saya memang selalu payah dalam membuat pendahuluan tulisan. Huks.

Ada dua hal yang menakjubkan dalam film ini. Pertama, dengan sangat luar biasanya Tuan Nirkumbh bisa tampak sangat awet muda *gapenting*. Dan kedua, pelajaran luar biasa tentang hakikat pendidikan yang sesungguhnya. Film ini sudah lama saya tonton, tapi baru sempat merekomendasikan sekarang. Tampaknya, sang produser yang sekaligus aktor utama menaruh perhatian penting pada isu pendidikan. Beberapa tahun setelah film ini dirilis, Aamir Khan yang kiyut merilis Three Idiots. Keduanya punya misi yang sama: membenarkan mispersepsi tentang hakikat pendidikan.

Nah, saya mungkin adalah salah satu dari segolongan manusia yang bingung dengan pandangan kebanyakan orang tentang pendidikan. Kalau boleh jujur, saya sebenarnya lebih bingung dengan sistem pendidikan sendiri yang menjadi akar penyebab munculnya pandangan kebanyakan orang yang membuat saya bingung. Sejauh ini saya pasti membuat Anda bingung. Tak apalah. Saya tidak ingin menyalahkan sistem. Saya juga tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Maka pada saat menulis ini saya putuskan untuk berhenti pada tahap bingung saja.

Saya bingung, kenapa sistem pendidikan membuat masyarakat mengukur kesuksesan pendidikan itu sendiri dengan strata akademik? Mengapa perusahaan-perusahaan besar hanya sangat percaya melanjutkan regenerasi pada lulusan dengan indeks prestasi yang mentok sempurna? Kenapa anak yang sudah bisa membaca saat berumur di bawah 5 tahun, menghapal perkalian hingga menghapal nama-nama menteri dianggap akan sukses dengan gemilang sementara anak seumuran yang masih suka memainkan ingus, main tanah, menyoret dinding, mengotori seluruh rumah, mencekik anak ayam warna-warni, memutilasi boneka barbie, katakanlah paling positif diberi apresiasi ala kadarnya seperti :”yah, namanya juga anak-anak“. Kenapa anak yang biasanya rangking satu, yang biasanya mendapat nilai 10 dalam matematika, menggambar pemandangan lengkap dengan gunung sawah dan dangau disebut cerdas dan berbakat, lalu anak yang menggambar sesuatu yang susah didefinisikan dalam bahasa manusia dianggap bermasalah dalam koordinasi otak dan jari? Kenapa orang tua dengan anak-anak yang tidak bisa rangking di kelas selalu berkecil hati dan merasa menjadi orangtua paling malang tingkat internasional? Kenapa pendidikan jadi begitu sempit? Kenapa pendidikan hanya terdefinisi dalam dimensi sekolah formal? kenapa oh kenapa? padahal pendidikan -katanya- adalah proses memanusiakan manusia.

Tentulah agaknya saya mengalami momen-momen dilematis ketika beberapa orang tua murid dengan wajah seolah-olah besok BBM bersubsidi akan naik 100% mendatangi saya dan bertanya kapan anak mereka yang rata-rata berumur 4-5 tahun diajari membaca-menulis-menghitung? Kenapa tampaknya di sekolah hanya bermain-main saja? Padahal sejak awal jelas-jelas saya namai sekolah itu Sekolah Bermain, bukan Sekolah Membaca, Sekolah Menulis, pun Sekolah Berhitung. Ibu-ibu yang mencemaskan masa depan anak mereka itu juga menambahkan bahwa anak-anak mereka harus lulus tes baca-tulis-hitung untuk bisa masuk SD. Bagaimana saya tidak ingin sekali menggaruk-garuk tanah coba? Lah, kemampuan dasar (baca-tulis-hitung) justru harusnya diajarkan di Sekolah Dasar. Argh.

Lalu tiba-tiba bayangan Nirkumbh memenuhi otak saya. Saya, dengan kepalan tangan ke udara diikuti anggukan kepala mantap seperti Kotaro Minami, memberikan support moril pada Nirkumbh yang tengah mengungkapkan kebenaran kepada orangtua Ishaan. Ishaan adalah korban sistem pendidikan yang menunggalkan makna kecerdasan. Ishaan, karena dyslexia, memang kesulitan dalam membaca dan menulis, hingga Ishaan butuh proses belajar yang berbeda dari teman-temannya. Ishaan memang butuh waktu lebih lama dari teman-temannya untuk menulis dan membaca. Tapi lihatlah kemampuan melukis Ishaan, Tidakkah dia brilian??? Orang tua Ishaan, mungkin seperti kebanyakan orangtua di sekeliling kita, tidak paham keadaan Ishaan, mereka justru marah saat Ishaan bukannya belajar membaca tapi malah menggambar-gambar tidak jelas.

Melukis adalah kecerdasan Ishaan. Anak lain juga punya dimensi kecerdasan yang berbeda. Ishaan, dan setiap anak di dunia terlahir spesial. Terkutuklah sistem pendidikan jika justru karenanya anak-anak kehilangan diri mereka sendiri. Anak-anak, percayalah, terlahir dengan potensinya masing-masing. Mereka hadir ke dunia membawa warna mereka sendiri. Tak ada seorang pun yang berhak menuding mereka bodoh hanya karena tak mampu belajar secepat teman-temannya. Mereka tumbuh dengan cara mereka sendiri, dengan kecepatan mereka sendiri. Mereka punya momentum sendiri-sendiri dan terlalu berharga untuk disamaratakan oleh sistem. Kita tak berhak mengikis jiwa murni mereka. Mereka spesial, dan biarkan mereka tumbuh dengan spesial. Dan pendidikan, seperti masakan Timur Tengah bagi lidah saya, tidak seharusnya “pekat namun hambar“(?)

Oke. Selesai. Intinya, film ini spesial. Nirkumbh dan Ishaan akan memberikan pelajaran berharga tentang anak-anak dan pendidikan. Diawali dengan animasi kreatif yang apik, alur yang mengharu biru, dan hikmah yang melimpah, Taare Zameen Par, Every Child is special, wajib tonton untuk siapa saja yang mencintai anak-anak dan peduli pada pendidikan.

cheers:)

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

6 Responses to Nirkumbh

  1. musimsemi22 says:

    “Bagaimana saya tidak ingin sekali menggaruk-garuk tanah coba? ”
    saia suka bagian in dr ksah diatas ni..barangkali uni ingin mengaplikasikannya.. πŸ˜€

    saia setuju alias supakaik..bhwa kepintaran it bukan hanya sari 1 segi sj..dan setiap anak it spesial..dan msti dperlakukan scra spesial…smngat ni plus ttp smngat dengan sekolah bermainnya… πŸ™‚

  2. dianyaa says:

    cha, perkenalkan salah satu murid ‘khusus’ ku, disini :
    http://dianfitriah.wordpress.com/2012/01/31/bintang-kecil-di-bumi/
    aku masih mencari metode, agar ia bisa bersahabat dgn angka dan huruf.
    ingatannya thadap hal tsbt sangat pendek, mungkin kamu punya ide untuk metode mengajarku.
    tp tentu ia Bintang Kecil di Bumi πŸ™‚ every child is special..

  3. Detin Nitami says:

    teteh πŸ™‚ masih inget aku? hehe..akhirnya aku berkunjung πŸ˜€ wiiih, Taare Zameen Par rame abis, setuju! Amir Khan emang artis india yang kerenzz bangetzz. jadi nambah autis sama film india aku haha *setelah dapat keluarga baru orang india..

  4. naylahmetta says:

    Teh Subhanallah..
    maju terus deh SBBHnya yah^_^
    Mau banget berkunjung kesana

  5. mbak ocha,
    bagus deh tulisannya..pertanyaan yg sama di otak saja mengenai mengapa. mengapa, dan mengapa-nya.
    izin share yaa… di nauliartha.blogspot.com

  6. meliarahma says:

    ochaaaa…..
    sukaaaa –>
    (sementara anak seumuran yang masih suka
    memainkan ingus, main tanah, menyoret dinding,
    mengotori seluruh rumah, mencekik anak ayam
    warna-warni, memutilasi boneka barbie, katakanlah
    paling positif diberi apresiasi ala kadarnya
    seperti :”yah, namanya juga anak-anakβ€œ.)
    hahahahahahahahahahaaaaaaaaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s