(masih)meracauceracau

Bumi makin sesak. Spesies manusia berkembang dalam deret ukur. Sementara mortalitas memang punya kecenderungan tak mampu menyaingi natalitas. Kepala yang semakin banyak membuat kompleksitas semakin merangkak levelnya. Sayangnya, memang tidak selalu pada sumbu positif.

Polah pemikiran -positif atau negatif- selalu berkembang secepat bakteri mereplika diri. Saya memang tak perlu khawatir. Karena saya percaya, kebaikan selalu mengimbangi kejahatan. Lalu, kebaikan diciptakan sebagai entitas dengan kediktatoran dan kekuatan absolut, sesuatu “yang selalu menang pada akhirnya”. Seiring dengan kecenderungan semesta untuk melakukan recovery, apapun yang terjadi, pada ujungnya kebaikan,dan segenap faktor positif akan berkuasa. Itu fitrah.

Inilah balada menjadi penduduk bumi dan menjadi penduduk negeri ini. Sejak kecil hidup dalam cara pandang yang dibangun penjajah, yang lalu diwariskan turun temurun bahwa negeri ini punya sumber daya alam yang melimpah-limpah. Dogmatis. Walau itu benar adanya. Tak tanggung-tanggung, hingga katanya, orang-orang menyebut tanah ini -tanpa dalil-  tak ubahnya surga, seakan mereka pernah pelesiran ke surga. Iya. Surga,dimana tongkat, kayu dan batu pun jadi tanaman. Apa tidak luar biasa? Cukup dengan iming-iming manis itu, maka berkembang biak dan tumbuhlah sekelompok pribumi sebagai orang-orang yang duduk dan “menunggu” tongkat, batu dan kayu mereka menjadi tanaman. Padahal sumber daya alam di tanah yang dipijak dengan sumber daya manusianya bukanlah sebuah hubungan komplementer dua arah. Manusia bisa mandiri dengan kemampuan memanipulasi. Namun kekayaan alam tak bisa dibiarkan begitu saja, karena ia tak pernah bisa berdiri sendiri. Ia -tentu saja- hanya bisa bermanfaat sejauh dikelola dengan bijak.

Lihatlah, selain karena beberapa faktor lain juga, negara tetangga yang kecil mungil yang boleh dibilang tak punya apa-apa bisa maju pesat sebegitunya. Di saat negeri yang kaya raya gemah ripah loh jinawi ini, masih galau dalam keremehtemehan, padahal sudah senja usianya.

Semua orang terkecoh dan berfokus bahwa sumber daya alamlah yang lebih berharga,alih-alih sumber daya manusia. Kita menjadi sangat materil, hanya mengimbangi eksploitasi sumber daya alam dengan skill pengelolaannya yang sangat teknis, tapi lupa membentuk karakter manusia-manusianya. Hingga lahirlah perampok-perampok yang merasa seolah-olah aset negara adalah kepunyaan nenek moyangnya. Tak hanya itu imbasnya. Mirisnya concern pembentukan karakter menjadikan kita sebagai bangsa yang rapuh dan menyedihkan. Seperti si gizi buruk yang dikerubungi lalat padahal ia tinggal di lumbung padi.

Saya tidak sedang ingin terdengar keren dengan istilah ini(emang siapa yang bilang keren cha?). Walaupun menurut saya itu keren. Saya juga tidak sedang ingin meng-antitesis-kan diri sendiri seolah-olah saya adalah si kuat. Justru saya was-was, jangan-jangan sayalah si gizi buruk itu. Oh no! Jadi mohon maklum apabila saya terdengar sotoy, karena saya memang sotoy.

Oke. Tadi sampai mana? Tuh kan lupa.

Oh ya, tentang pembentukan karakter. Ini memang bukan bidang saya. Yang jelas tiap orang punya peran dan tanggung jawab. Well. Kita tak akan membahas itu.

Nah, lalu kenapa saya lantas bermukadimah sebegitunya seolah-olah akan membuka sidang Perserikatan Bangsa-bangsa? Ini hanya karena saya sedang kecewa*hasyah!* Lebih kepada diri sendiri. Ntah sejak kapan dan bagaimana ceritanya, saya percaya bahwa saya punya peran dalam tugas mulia mewujudkan perdamaian dunia*pale-lo-cha*. Seperti power rangers.

Saya merasa tersiksa, amat tersiksa, jika ada,bahkan hal kecil saja, seukuran quark yang tidak beres, yang berpotensi zalim pada umat manusia *ampundehcha*. Imbasnya, cowo saya juga harus tersiksa karena dia -ikhlas atau tidak- menjadi pendengar setia si ranger yang mengomel. “Kenapa begini..blablabllubu..harusnya begini, begitu, blebleblebeb“. Apalagi frekuensi omelan semakin menjadi-jadi sejak saya hobi menonton berita televisi. Anda pasti tau maksud saya.

Haditsnya, jika melihat kemungkaran,ubah dengan tangan. Kalau tidak bisa, ubah dengan lisan. Kalau tidak juga, ubah dengan hati dan itulah selemah-lemahnya iman. Saya hanya sanggup dengan lisan: mengomel*gubrak! Yang jelas tidak mampu mengubah apa-apa. Makanya saya kecewa.

Tapi pastilah anda juga sulit menahan keinginan untuk mengomel-ngomel ketika anda dengar wakil-wakil rakyat yang terhormat malah sepertinya berlomba-lomba berkhianat pada rakyat. Wakil-wakil rakyat yang mudah limbung dengan godaan harta, tahta, wanita, dan jamban. Yang dilema luar biasa memilih “melebihkan” anggaran untuk rakyat atau untuk makanan rusa, atau kalender, atau pewangi ruangan. Penguasa seenak jidad menjual-jual aset negara, dan menyisakan hanya ampas saja untuk bangsanya sendiri. Pemimpin hilang wibawa, mendadak manja karena terlalu lama dilamun kuasa. Negara macam apa yang di sana pemimpin dengan terang-terangan malah jadi olok-olok? Yaa Salaam…*tepokjidad*

Di pojok lain, ada yang emosinya gampang tersulut hingga bisa menumpahkan darah sesantai menepuk nyamuk. Banyak yang bangga dengan kemaksiatan yang dilakukannya. Bahkan yang bangga dengan ke-tidakberagama-annya. Banyak yang teriak-teriak HAM, padahal Penciptanya sendiri sudah menciptakannya lengkap dengan atribut yang azasi. Kemudian ada pula generasi muda yang mengukur kekerenan dalam jumlah batang rokok. Maafkan saya, tapi bukankah itu sangat dangkal?

Ya ampun, betapa inginnya saya agar semua berjalan dengan semestinya, agar semua orang bisa bahagia. Namun saya masih begini-begini saja tanpa berbuat apa-apa. Aarghh arghzz arrgzzzxckgkczkk. *bentur2in pala ke tembok.

Saya tau. Saya maklum. Manusia memang punya kecenderungan untuk berbuat destruktif, merusak, mengusik, menjatuhkan, mengurusi yang tak pantas diurusi, dan justru melalaikan yang harus diurusi. Tapi kita bisa memilih untuk menjadi yang sebaliknya. Kita bisa memilih untuk menjadi manusia yang konstruktif, yang penuh kebermanfaatan. Tidak perlu menjadi superhero. Tidak perlu menjadi power rangers. Karena hal besar adalah kumpulan hal-hal kecil.

Saya percaya, jika kebaikan dan kebaikan masing masing adalah domain dan range. Maka kebaikan atas kebaikan bukanlah fungsi persamaan apalagi dengan relasi korespondensi satu-satu. Kebaikan atas kebaikan adalah fungsi pertidaksamaan. Dimana cukup dengan satu nilai kebaikan maka didapatkan range berupa himpunan kebaikan sejumlah tak hingga atau sejumlah yang didefinisikan himpunan semesta. Ribet ya?Iya sih. Simpelnya, tidak ada balasan bagi kebaikan kecuali kebaikan. Kebaikan yang kita lakukan akan dibalas kebaikan oleh Yang Maha Baik.

Saya yakin, di pelosok-pelosok negeri ini masih ada orang-orang yang setia dalam kebaikan. Yang total memberi kontribusi, apapun bentuknya. Yang mungkin karena doa-doanya, Tuhan masih berbaik hati mengulur azab. Ya Allah, ampuni saya…

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

12 Responses to (masih)meracauceracau

  1. achyar89 says:

    Cha-cha-ma-ri-cha-he-he keren cha. Alurnya dapet banget 🙂
    Cha kirim ke media.. oyo cha, ado info di okezone.com: http://kampus.okezone.com/read/2012/02/28/367/583804/polemik-karya-ilmiah-sebagai-syarat-kelulusan

  2. isil says:

    subhanallah…
    walaupun cukup panjang tapi akhirnya keren…

    ” Saya yakin, di pelosok-pelosok negeri ini masih ada orang-orang yang setia dalam kebaikan. Yang total memberi kontribusi, apapun bentuknya. Yang mungkin karena doa-doanya, Tuhan masih berbaik hati mengulur azab. Ya Allah, ampuni saya…”

    luar biasa cha..

  3. Shabrina Nida Al Husna says:

    “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apapun, niscsaya dia akan melihat (balasan) nya, dan Barang siapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula. [Q.S. Al Zalzalah : 7,8]
    “Maka janganlah kalian memandang remeh kebaikan sekecil apapun untuk kalian amalkan dan jangan pula memandang remeh perbuatan dosa sekecil apapun untuk kalian tinggalkan.” [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/400]
    “Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan 10 kali lipat amalnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikitpun tidak dirugikan (didzalimi)” (QS. Al-An’am [6] : 160)

    Ah, sesungguhnya semua sudah ada jawabannya :’)
    Nice note teh ochaaa, suka bgt bgt bgt 🙂

  4. Chi Yu says:

    aku banget,, hehee ngaku2, ilmiah yg diracik dg bumbu meracauceracau, ada canda dlm serius, dapet bngt.. top maretop euy,,

  5. bundaki says:

    suka sangat

  6. sifaconcetta says:

    tulisannya keren 😀

  7. jojo says:

    ocha.. 🙂

  8. racchanKD says:

    orang baik yang tetap dalam kebaikan.

  9. Dyah Sujiati says:

    Izin reblog ya?
    #sepertinya saya tidak perlu menunggu dijawab, jadi saya asumsikan sudah diizinkan
    ^__^ cheers DS

  10. Pingback: Jenis Patologi | Dyah Sujiati's Site

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s