once upon a Friday

Sebelumnya, tulisan ini hanyalah sampah. Maka buanglah sampah pada tempatnya.

~

Tentu saja saya tersulut. Sebagai satu-satunya orang yang percaya hingga ke ubun-ubun bahwa saya keren, pastilah saya ingin membuktikan bahwa kepercayaan saya benar. Lebih kurang begini kata mentor saya waktu itu (semoga Allah merahmatinya), “muslimah itu harus gaul,, jangan ngaku keren kalau ngga up to date sama berita-berita terkini, blablabla,harus sering baca koran, blablabla”.

Pada saat itu, saya mendengarkan dengan mata kriyep-kriyep. Ini indikasi bahwa saya merasa tertohok. Bagaimana tidak? Terus terang, saya tidak suka membaca. Tapi saya masih percaya ini bukan keinginan saya. Ini sindrom yang tak bisa saya kendalikan *alesan*. Jika anda melihat saya sedang membaca buku pada pukul 10.00. Maka, pada pukul 10.10 anda akan melihat saya tertidur pulas tanpa dosa. Dan entah kenapa, saya sepertinya akan merasa sangat bersalah jika membaca koran. Karena saya memegang prinsip: jika keinginan membaca itu datang, yang mana itu sangat langka, saya harus memanfaatkannya untuk membaca buku-buku yang menarik saja.

Jadi pada akhirnya, pada suatu Jum’at yang damai,  saya mengambil keputusan yang sulit:Ya!saya akan membeli koran(dan membacanya). Waktu itu saya masih tingkat 1. Setelah selesai kuliah Kimia Dasar dan berkongkow-kongkow sebentar bersama teman-teman, akhirnya kira-kira jam 11-an saya memutuskan ke Salman untuk makan sekaligus merealisasikan niat mulia membeli koran. Saya ingat di Salman suka banyak yang menjajakan koran.

Pucuk dicinta ulam tiba. Jujur saja, saya tidak tau  “ulam” itu apa dan apa relasinya dengan pucuk dicinta. Tapi saya yakin sedang memakai peribahasa yang tepat. Ketika sedang makan, ada bapak-bapak penjaja koran yang mampir di kantin Salman. Tanpa berpikir panjang, saya panggil si bapak-bapak sambil tidak lupa menjentikkan jari seperti menyetop angkot.  Saya harus memanggilnya dua kali, karena si bapak tampak ragu apakah benar ia yang saya panggil. Bapak itu kemudian mendatangi saya dengan wajah masih bingung yang membuat saya juga bingung dan sedikit berbesar kepala, saya merasa seakan-akan tidak pernah ia, si Bapak itu bayangkan dalam mimpi sekalipun seorang wanita anggun seperti saya akan membeli korannya. Ah. saya jadi malu.

Saya pun memulai traksaksi.

“berapaan pak korannya?”

“seribu neng”, jawab si Bapak

“oh,seribu??” kata saya dengan nada seolah-olah akan memborong semua koran. Pongah sekali. Tapi bukan apa-apa, saya agak terkejut. Waktu itu saya menaksir koran berada di kisaran harga lima sampai sepuluh ribu.huks

Akhirnya transaksi jual beli terjadi. Seketika kepercayaan diri saya meningkat beberapa derajat. Bagaimana tidak, di genggaman saya sudah ada koran. Ya. Koran. Sakti sekali, dia akan memberi tau saya kabar-kabar paling anyar di kehidupan ini.

Tanpa berbasa basi, dengan gaya-pada-umumnya orang membaca koran yang sering saya lihat di televisi, saya kibaskan, buka lebar, dan guncang-guncang pelan agar rapi (?) koran itu dengan style paling elegan yang bisa saya lakukan. Gagah sekali. Jujur saja, membaca koran di depan umum cukup membuat saya deg-degan.

Dan, taraaa!!! Hanya selang beberapa detik setelah adegan andalan saya (kibas, buka lebar, dan guncang-guncang), saya langsung kebingungan, dan mendumel bodoh dalam hati sambil membalik-balik halaman koran “loh?ini gimana cara bacanya?halaman depannya mana ya?ini koran judulnya apa sih?kok tipis banget ya?”. Saya ulang membolak balik halaman koran dengan hiperbolik, seperti pengangguran yang bernafsu mencari lowongan kerja. Saya benar-benar kebingungan. Untuk memudahkan pemula, harusnya koran tidak dicetak semisterius ini. Saya tidak sadar kalau saya sudah terlalu lebay, mengakibatkan orang-orang di sekeliling yang terusik sudah melirik-lirik ke arah saya.

Seperti di sambar gledek di siang bolong melompong, saya menyadari sesuatu. Rasanya waktu berhenti sepersekian detik. Hening. Dan kemudian sebuah suara bergema dalam otak saya “HELLOO?!Sekarang hari jumat, bung!!! J-U-M-‘-A-T!!!orang-orang bentar lagi SHOLAT JUM’AT!Dan koran itu, iya. Koran itu, oh plis, itu buat ALAS SHOLAT JUM’AT!!!Ya tentu aja halamannya ngaco”  Saya hancur berkeping-keping. Merasa dipecundangi oleh si Bapak-bapak penjual koran yang tadi berwajah kebingungan. Kepercayaan diri saya yang tadi sudah meningkat beberapa derajat kini jatuh terjerembab dengan dramatis.

Lalu saya lipat koran itu dalam gerakan slow motion sambil melirik ke kiri dan ke kanan seperti akan mencuri sandal. Saat itu, saya malu sekali, saya benar-benar berharap tidak menjumpai orang yang saya kenal. Maklum, saya masih tingkat 1, image saya masih suci putih bersih seperti bayi yang baru lahir.  Saya masih tidak rela dipergoki dalam kejadian-kejadian memalukan. Saya beringsut keluar dari kantin dengan langkah kaku, pelan-pelan takut limbung, diiringi musik latar pengantar pengantin kristiani menuju altar: Here’s come the Bride. Dengan suara violin tercekik. Saya merasa mata-mata yang tadi melirik ke arah saya masih mengikuti gerakan-gerakan aneh yang spontan saya lakukan.

Saya mempercepat langkah. Meninggalkan si koran nista di bangku-bangku depan kantin. Berjalan menjauh sambil mengguncang-guncang kepala seakan-akan  memori tertentu (yang memalukan) bisa hilang begitu saja dengan mengguncang-guncang kepala. Jelas sia-sia. Tapi tetap saja selalu saya lakukan.

Baiklah.

Hikmah yang saya petik adalah pertama: sering kali kecenderungan terjadinya hal-hal konyol alamiah yang memalukan berbanding lurus dengan keinginan membuktikan kekerenan. Kedua: kesotoyan kadang memilukan. Hidup ada kalanya pahit, jenderal!

Dan tau tidak, beberapa waktu setelah itu, ada seorang teman yang mengakui bahwa dia hampir mengalami kejadian yang sama. Ntahlah, rasanya saya puas sekali. Hal-hal seperti itu lazim terjadi di zaman sekarang(?), saya tidak perlu lebay menanggapinya. Hoho. Saya sangat dewasa. Selesai.

~

*Ini cerita untuk Mehe, teman kencan saya, yang apabila saya tidak menulis cerita ini di blog, maka saya harus mentraktir Mehe. Mehe sempat menambahkan bahwa saya tidak boleh mentraktir permen*penting*. 

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

10 Responses to once upon a Friday

  1. dianyaa says:

    Hahaha kocak cha ;p
    Lanjutkan! #lho?

  2. dianyaa says:

    Hahaha kocak cha ;p
    Lanjutkan! #lho?

    Hal yg paling konyol dian lakukan adlh naik turun lift nyari lantai 22, tp g ketemu2 *sadis*

  3. dhefimaputri says:

    kyaaa.. akhirnyaaa~ *?*

    numpang ngakak
    wakakakakakakkakaakk :))

  4. Dan Azed says:

    wuah…akhirnya ada lago tulisan dari uni Ocha. lama menanti, ternyata tulisan yang datang super ‘lucu’ sekali.
    ayoo…uni…nulis terus dunk…
    sekali seminggu cukup, deh…

    *pasti ni komen gak dibalas Ni Ocha. boro-boro dibalas, dibaca aja wallahu’alam. Uni Ocha nggak keren ah soal balas-balasan komen…

  5. musimsemi22 says:

    asli ngakak…mksih cerita ala OVJ nmun penuh hikmahny uni.. ^^

  6. putri says:

    Salam kenal, Yosha!
    Lucu banget posting ini :))

  7. bundaki says:

    hwkhwkhwkh..memecah kesunyian ruangan di tengah njelimetnya buat laporan..inspirated..

  8. racchanKD says:

    plot-twisting sekali teh.

    from : urfan

  9. drajat says:

    Ha..ha..ha…kocak abis….

  10. 😀 abis itu jalan simetris? ^__________^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s