ekliptika

Seperti inilah. Pagi selalu menyuguhkan aroma yang khas. Aroma yang dominan. Seperti secangkir kopi. Tentu saja, hal yang orang-orang sebenarnya tak pernah ingin kehilangan adalah pagi mereka. Karena harapan dan semangat seolah disemai Tuhan ke muka bumi pada saat hari masih pagi. Dan seperti untuk itulah matahari bersinar, meradiasi  energi di pundak-pundak cucu adam. Jika kehidupan adalah buku, maka usia adalah jumlah halaman, dan pagi adalah ketika kita membalik halaman baru. Ada cita rasa baru pada setiap helai lembaran yang dibalik. Bau malam yang pengap bisa saja masih tertinggal di tepi-tepi halaman. Lalu malam selalu identik dengan kelam, hitam, kesunyian dan perhentian. Padanya, orang-orang “menyerahkan diri” mereka secara total. Tanpa kompromi. Lucu sekali, sehebat apapun siapa saja, mereka akan kalah juga, hanya pada kantuk yang tak tertahankan. Bisa saja membangkang tak tidur, tapi tunggu saja efeknya yang menyedihkan: lemas, seperti ada yang menyedot paksa darah segar seharian. Saya bahkan pernah ketiduran ketika makan karena malamnya tak tidur sampai pagi. Keterlaluan. Tapi ya begitulah..

Maka pagi identik dengan harapan dan energi baru. Cuaca masih terlalu suci untuk diberi komentar ini itu. Jika boleh berlebihan bermetafora, apabila bidadari perlu menguap selepas tidurnya, maka bagi saya itulah yang menjadi cikal udara pagi. Lalu bersamanya embun juga menguap, kembali ikut ambil bagian dalam daur hujan. Awan-awan baru terbentuk di dinding-dinding langit. Juga masih bersih. Jelaga emisi kendaraan belum sampai hati mengotori. Pagi memang identik dengan harapan dan energi baru. Setidaknya yang tertanam dalam benak saya sejak mengenyam bangku pendidikan adalah bahwa hanya pada pagi hari ada pemandangan sejenis “petani turun ke sawah”. Mereka membawa harapan dan energi baru. Seolah pada petani-petani itu Tuhan menitipkan pagi.

Pagi ini, saya melempar pandangan ke segala arah. Mengamati stasiun kereta yang ricuh. Ada obrolan di sana sini. Suara-suara obrolan ditambah suara langkah kaki orang-orang lalu lalang secara konstruktif menciptakan bunyi seperti dengung lebah di telinga saya. Orang-orang merumpi dari A sampai Z. Saya hanya mendengar kelebatan saja. Tentang pendidikan anak, harga bahan pokok yang terus merangkak, mengeluhkan presiden, korupsi, atau tentang sistem transportasi di negeri ini yang kacau. Entah mereka memang benar-benar mengerti apa yang mereka bicarakan atau hanya sekedar ingin mengumpat-ngumpat saja di pagi hari. Pengganti sarapan.

Pedagang-pedagang asongan mendominasi peron. Mereka menawarkan dagangannya pada orang-orang yang pura-pura tidak mendengar apa yang mereka tawarkan atau seolah-olah tidak melihat mereka dan tidak menyadari kehadiran mereka. Orang-orang tetap pada aktivitasnya walaupun si pedagang sudah promosi dagangannya sampai mulut berbusa. Menyedihkan. Rasa simpati menyeruak begitu saja. Tapi saya tidak sebaik hati itu sampai bisa memborong semua dagangan seluruh pedagang asongan di stasiun. Terlebih lagi, tentu saja saya tidak punya cukup uang. Mungkin suatu saat nanti bisa saya lakukan itu. Aamiin.

Saya melirik pada papan jadwal kusam yang menggantung secara tidak niat di sebelah loket informasi. Kemudian beralih memperhatikan harum jam di tangan kanan saya. Dalam beberapa menit lagi kereta saya akan berangkat. Saya sudah lupa kapan terakhir kali naik kereta api. Tapi setidaknya saya masih bisa membayangkan suasana di atas gerbong. Orang-orang yang tidak saling mengenal dan tidak saling peduli, hanya kebetulan punya tujuan yang sama bisa berkumpul di sarana transportasi umum seperti ini. Tentu saja tiap orang berangkat dengan niat yang berbeda. Di kereta, saya selalu berlama-lama memperhatikan ekspresi penumpang-penumpang lain. Atau mengamati pemandangan dari balik jendela kereta, pohon-pohon yang seolah meloncat menjauh, rumah-rumah penduduk, ilalang-ilalang di lapangan kosong, petak sawah, atau sesekali anak-anak yang bermain riang bersama sebaya. Semuanya meloncat ke belakang, ke masa lalu. Namun tetap ada yang mereka titipkan bersama saya di gerbong kereta: kesan. Mereka lukis di hati saya dalam sejenak saja.

Pagi selalu punya cara membuat lukisan itu lebih indah, membuatnya jadi lebih nyata. Pada pagi, di pojoknya, sambil menunggu kereta, saya membilang lukisan-lukisan kesan yang sempat ada. Hawa pagi yang lembut memenuhi peron. Udara yang jernih dengan ramah menyapu puncak hidung. Cahaya matahari masih lemah, tapi meradiasikan energi baru sedemikian rupa. Saya berdiri, melangkah menuju kereta. Kali ini dengan kereta yang sedikit berbeda. Ia menempel pada rel yang adalah ekliptika tempat tiap mimpi saya mengitar. Di sepanjang rel itulah berjejal asa dan impian. Makanya tiap pagi, saya selalu bergegas menuju stasiun ini. Iya, pada pagi. Karena pagi selalu menyuguhkan aroma yang khas, pekat sekali: bau masa depan.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

7 Responses to ekliptika

  1. adjie wicaksana says:

    keren abis cha. nice post

  2. Novia Elisa says:

    Assalamualaykum..
    salam kenal.
    Kunjungan yg kesekian kali di blog yg luar biasa ini. Postingannya keren. 🙂

    “Pagi ini, kubisikkan kedamaian pada angin agar dihembuskan ke semesta”

  3. nenny damay says:

    dubrak..aku tersadar..ternyata pagiku sering terabaikan….olehku..

    *aku lemas…lalu bangkit…aku bergegas…

    yah, aku mulai menata pagiku..

    Nice Posting Ocha, Handoenk ku…^^b
    Syukrn atas semangatmu menginspirasi bnyk orang…

  4. isil says:

    dan begitu pun saya, selalu menantikan tulisan-tulisan indah mu say
    dan kali ini , tulisanmu begitu indah meliuk-liuk…
    tentang pagi yang selalu dinanti…

  5. zoelciil says:

    bagus sekali, terimakasih sudah menginspirasiku pagi ini cha, hampir aja pagi ini terlewatkan dengan percuma

  6. musimsemi22 says:

    thanks U utk sbwh blog yg akhirny kujadikan blog favoritku…
    salam kenal yo cha….wk smo2 urg minang mah…. ^_____^

  7. achyar89 says:

    sadiiiss

    sangat like this chaa 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s