meracauceracau(lagi)

Seperti yang sering sekali saya sampaikan, saya selalu kagum pada fakta bahwa tiap orang punya sudut pandang yang berbeda. Dan tiap satu orang sebenarnya punya kemungkinan sudut pandang yang tidak terbatas tapi tergantung pada wawasan dan kedewasaan. Makanya orang yang bisa punya banyak sudut pandang adalah orang yang bijak.  Perbedaan sudut pandang ini kadang menjadi pemicu selisih ekspektasi dan realita. Ya, siapa saja pernah kecewa pada realita karena tidak sepadan dengan ekspektasi yang ada. Tapi bagi saya, ekspektasi kadang bukanlah konstanta di awal. Tapi fungsi dari variabel persepsi atau sudut pandang. *janganberteletelecha*. Ambil saja fungsi linear y=ax. Dimana a adalah konstanta. lalu x adalah variabel yang dalam hal ini yaitu persepsi . Dan y tentu saja fungsi tujuan yang tidak lain adalah ekspektasi.  Ketika rasanya kenyataan tak berpihak, kita tinggal mengubah persepsi. Dengan persepsi baru, kita bisa punya ekspektasi baru untuk kenyataan yang ada. Hmm.. mungkin ini terlalu membingungkan. Tentang ekspektasi, realita dan kekuatan persepsi. Ntah kenapa, bagi saya itu menakjubkan. Sama menakjubkannya seperti kembang api yang bisa pecah begitu saja di udara pada ketinggian yang pas, pada ketinggian yang cukup untuk orang-orang bilang dia indah. Tidak terlalu rendah sampai kita perlu lari tunggang langgang menghindari luka bakar. Pun, tidak terlalu jauh sampai untuk mendeteksi keberadaannya kita butuh, yah katakanlah binocular. Tentu saja semua dengan asumsi dia bukan produk gagal dan dibakar dengan normal. Bukan di bawah bantal. Ah, siapa sih yang menciptakan kembang api?keren sekali. By the way,  inilah susahnya punya pikiran divergen seperti saya. Kenapa saya malah membahas kembang api?huff.

Saya biasanya merasa geli sendiri melihat fakta bahwa ada selisih sudut persepsi, ekspektasi dan realita ketika saya menonton televisi. Antara penjaja produk komersial dan saya, dan siapapun sebenarnya. Mari kita ambil contoh, umm apa ya? sebutlah cairan pembersih closet. Sebenarnya saya lebih suka produk pembersih wajah yang anti jerawat sih. Ya sudah, kalau begitu kita ambil contoh shampo anti ketombe. Sadar tidak? Ketika sebuah iklan shampoo anti ketombe ditayangkan, sang pengiklan punya ekspektasi luar biasa terhadap produknya. Si model mungkin memang tak pernah sepenuh hati pura-pura keramas di depan kamera. Tapi lihat tim lainnya, sebagian mungkin harus sampai sholat istikharah mengeluarkan puluhan atau bahkan ratusan juta untuk tiap menit durasi iklan yang akan ditayangkan, juga mungkin harus berlelah ria berbulan-bulan atau bertahun-tahun mempelajari pasar. Belum lagi untuk pengembangan produk, si ahli bahkan bisa berkutat sampai botak menemukan formula baru untuk produknya. Mulai dari formula yang bisa menghilangkan ketombe dari dalam kulit kepala, dari luar, formula yang menghilangkan ketombe dalam 3 tahap, yang membuat ketombe hilang sekian persen dalam sekian kali keramas, yang membuat ketombe hilang dalam 3 kali keramas, atau mungkin yang membuat si konsumen setelah memakai shampoo bersangkutan tidak perlu keramas lagi seumur hidup.. Intinya banyak  sekali inovasi-inovasi yang telah mereka coba bertahun-tahun agar produknya tampak luar biasa dan memikat pasar. Intinya lagi, ketika sebuah iklan ditayangkan, bagi mereka itu adalah pencapaian luar biasa. Mahakarya. Hasil perasan keringat dan air mata #tsah! dalam tempo yang tidak pernah cukup sebentar. Mereka lebih dari percaya diri bahwa semua mata harusnya terbelalak menyaksikan iklan tersebut, atau minimal menaruh simpati. Tapi lihat kenyataannya, saya, ataupun anda malah sering sekali tak memperhatikan mahakarya itu dengan sepenuh hati, melihat sekenanya, hanya melihat kelebatan layar televisi yang berganti warna, atau yang lebih kurang ajar, mahakarya hasil jerih payah tim yang solid+pendanaan luar biasa hanya saya lihat sekilas sambil mengupil santai , bahkan saya sempatkan mengumpat-ngumpat bertanya retoris dalam hati kenapa iklannya banyak sekali sehingga program yang saya tonton menjadi lama munculnya, atau yang lebih parah, tanpa basa basi, saya ledek, saya caci maki, ditambah saya tertawai sepenuh hati. Ah, kadang saya bisa jadi jahat sekali.

Si pengiklan boleh saja punya ekspektasi tinggi, tapi mau tak mau ia harus “bertuan” pada realita. Misalnya realita apresiasi yang memilukan dari “si saya” sebagai penonton televisi. Jika ia tidak bijak, mungkin saja ia akan menutup pabriknya, bunuh diri massal, mengutuk dunia yang kejam atau menghakimi Tuhan tidak adil. Tapi sebagian mereka memang sangat bijak, merubah persepsi, membuat ekspektasi baru, dan terus mencoba. Yah, tinggal menunggu saja ada shampoo yang dapat menghilangkan ketombe tujuh turunan (?)Oh, tentu saja saya bercanda.

Sayapun pernah di posisi si pengiklan. Sebut saja ketika saya berkenalan dengan TA. Ah, saya jadi terkenang kembali masa-masa indah itu. Jika saja saya tak bijak, tentulah saya akan marah-marah ketika dosen pembimbing saya menyuruh menambahkan ini itu, padahal draft saya, ia bacapun tidak. Tapi kekuatan azzam, dan kelihaian membidik persepsi yang benar telah menyelamatkan saya. Ini semua hanya karena saya kurang pengalaman dan saya butuh lebih banyak pembelajaran. Saya baru kuliah kurang dari 4 tahun, dan beliau tidak kurang belasan tahun menjadi pembimbing. Beliau pasti menginginkan TA saya luar biasa. Maka yang perlu saya lakukan hanyalah bergerak. Menikmati proses. Bertahan  pada persepsi positif. Tanpa berpikir kalut. Tanpa keluh. Tanpa gerutu. Tidak hanya kasus TA saja sebenarnya. Banyak hal. Lalu hasilnya? Persis. Seperti kembang api.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

3 Responses to meracauceracau(lagi)

  1. Nurul Widya says:

    keren sekali. Ckck!! ^^

  2. hilda says:

    pembicaraan yg rumit, tp mengesankan kak…

  3. achyar89 says:

    cha, blog dari friendster bisa dipindahan k wordpress cha?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s