The Backyardigans

Adalah sebuah halaman belakang biasa sampai secara ajaib berubah menjadi apa saja seperti imajinasi Uniqua, Tasha, Tyrone, Austin dan Pablo. Halaman belakang itu tak tanggung-tanggung bisa menjadi pantai berpasir putih, bisa menjadi gurun tandus, menjadi hutan hujan yang lembab, menjadi hamparan es tanpa ujung, atau sebutlah apa saja.

Mereka bisa jadi kawanan perompak dengan kapal perompak besar di tengah lautan lepas, menjadi polisi dan penipu di kereta ke Istanbul, atau menjadi musafir di gurun Sahara.  Austin si Kangguru pernah menjadi seorang raja. Tasha atau Uniqua –saya lupa pastinya- pernah jadi seorang ratu yang arogan di Mesir. Tyrone menjadi pemain Saxophone yang hebat. Atau Pablo si penguin kecil, dia bahkan pernah menjadi Yeti –tentu saja ini bukan nama ibu-ibu penjual lotek-, si raksasa legenda yang hidup di pegunungan bersalju Himalaya di Nepal dan Tibet. Bahkan mereka bisa jauh kembali ke masa lalu dan kemudian menjadi manusia jaman batu. Dan yang menarik, seperti tak mau kalah dengan film india, mereka selalu bernyanyi dan menari. Lalu, umm.. sejujurnya saya paling suka tariannya. Haha.

Setelah selesai berpetualang, dunia imajinasi itu kembali menjadi halaman belakang biasa. Kemudian mereka semua menari sambil menyanyikan lagu favorit saya, “We’ve got the whole wide world in our yard to explore! We always find things we’ve never seen before! That’s why every day we’re back for more! We’re your friends, the Backyardigans!” atau yang dalam subtitle bahasa Indonesia menjadi seperti ini:

Kami punya seluruh dunia di halaman belakaaaaaaaang

Kami juga menemukan yang belum pernah kami lihaaaaaaat

Sebelumnya dengan teman-teman di halaman belakaaaaaangg…”

Yah, tidak terlalu buruk. Kemudian, seolah tidak habis melakukan petualangan besar yang menakjubkan sebelumnya, salah satu dari mereka akan keroncongan santai, dan semuanya akan berlari dengan cueknya ke salah satu rumah untuk makan cemilan. Naif sekali.

Saya jadi ingat masa kecil. Imajinasi kanak-kanak membuat kita bisa melakukan apa saja. Salah satunya menyulap rumah jadi sesuatu yang jauh lebih buruk dari Hiroshima dan Nagasaki pascapengeboman *lebay*. Niatnya sih cuma main rumah-rumahan. Apalagi saya adalah contoh anak kecil yang lebih sering memiliki imajinasi destruktif-tak bertanggung jawab. Maksudnya, saya hanya suka bermain, mengobarak-abrik, dan membuat onar, tapi tak mau membereskan kembali. Yang mana sangat disayangkan,  untuk membuat saya membereskan semuanya, ibu saya terpaksa harus menatap saya dengan ekspresi yang pantas diberikan kepada seorang pembunuh atau memasang ekspresi tidak-akan-ada-uang-jajan-lagi.

Halaman belakang  Uniqua, Tasha, Tyrone, Austin dan Pablo yang bisa kembali seperti semula setelah petulangan luar biasa sepertinya adalah tempat bermain ideal untuk saya. Tapi agaknya, bukan halaman belakang itu yang istimewa. Tapi imajinasi.

Tentu saja tak bisa diterima logika. Namun kata saya -anggap saja saya materialistis-, logika belum tentu menjadikan kita kaya, tapi imajinasi cukup membuat kita tak akan pernah menjadi miskin. Iya bukan? Iya aja! Kalau bahasanya Einstein, logika hanya bisa mengantar kita dari A ke B, tapi imajinasi mengantar kita kemana saja.

Wow! Unyu banget deh. Haha

*hanya sedang tersadar kembali tentang betapa kayanya imajinasi anak-anak, dan sedang sangat rindu pada The Backyardigans yang setia menemani dalam masa-masa suram saya mengerjakan TA. Oya, saya paling suka Tasha ;p

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to The Backyardigans

  1. mozaik... says:

    imajinasi bisa membuat dunia jadi begitu indah.

  2. juharisman says:

    wah the bacyardigans ya., cartoon favorit adikku ni. aku g bisa bayangkan imajinasi anak2 yg menonton film2nya.!!

  3. Wah, alhamdulillah. Akhirnya ketemu juga blog-nya si Ocha! Hihi
    izin tukaran link deh, Cha. Biar bisa sering2 mampir.

  4. Mutiara Christin says:

    minta link buat nonton kartun the backyardigans versi indonesia dong 😀 thankyou

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s