Alhambra Syifa

Syifa namanya. 4 tahun. Cantik. Dia suka memakai baju, sepatu dan aksesoris merah muda. Bungsu dari 6 bersaudara yang salah satu kakaknya adalah teman saya di kost yang lama. Untuk anak seusianya, dia kelebihan kosakata. Wajar sih, dengan 5 orang kakak dari segala rentang usia, syifa kecil mudah belajar apa saja. Hingga tumbuhlah ia jadi gadis kecil yang lincah, terbuka, dan suka bercerita. Makanya saya bilang, untuk anak seusianya, dia kelebihan kosakata. Dia dan ibunya beberapa kali berkunjung ke kost saya yang lama. Syifa sering bermain di kamar saya. Dia paling suka menyusun boneka-boneka di kamar saya, dia suka tertawa geli melihat Poho, kadang dia juga mengajak Darsem, boneka kakaknya –yang tentu saja, saya yang memberi nama- untuk ikut bermain bersama Poho dan antek-anteknya(?). Kadang dia bercerita, yang membuat saya tertawa-tawa, yang kemudian membuat dia terdiam dan bingung kenapa saya tertawa-tawa. Ah, anak kecil, dengarlah cerita mereka, kamu akan tau sendiri bagaimana bisa kamu tak tertawa.

Terakhir syifa mengunjungi saya di kamar, gadis kecil itu sedang hobi-hobinya menulis. Saya memberinya selembar kertas warna dan sebuah spidol. Di lantai, dia meringkuk, menulis entah apa. Yang jelas saya terlalu fokus pada TA saat itu. Sesaat kemudian dia mendatangi saya dengan manja, sambil menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya, *seperti adegan di sinetron-sinetron, tapi ini kertas, bukan mawar* sambil tersenyum polos, membuat saya melihat ketulusan anak-anak melampaui karies-karies di gigi sulungnya.

“Kak ocha, syifa bikin ini buat kak ocha…”, katanya. Masih tersenyum.
“apa itu sayang?mana?coba kakak lihat..”, pinta saya antusias, beralih dari TA.
Dia perlahan membuka kertas yang ia sembunyikan, membiarkan saya membaca apa yang ia tulis.
Kaocacatik. Begitu yang tertulis disana. Tidak rapih. Tanpa spasi. Tapi saya tahu apa maksudnya . Maka ketahuilah seketika saya melambung hampir menabrak genteng. Bagaimana tidak. Katanya anak kecil tak pernah berbohong. Haha. Saya langsung memeluk syifa dan bilang kalau dia pintar. Wkwkwk. *begini nih kalau udah dipuji.-_-“*
Dia tampak puas setelah saya bilang pintar. Kemudian langsung kembali ke posisi meringkuk untuk mulai menulis lagi.

Adegan sinetron kembali terulang. Syifa menyembunyikan kertas di belakang punggungnya dan perlahan menunjukkannya pada saya.
Pohocantikkayak kaoca. Maka saya yang tadi sudah melambung, jatuh terhenyak masuk ke empang. Oh, gadis kecil ini, jika dia 15 tahun lebih tua dari umurnya sekarang, saya sudah pasti mencari benda tumpul terdekat yang bisa dipakai untuk melemparnya. Bagaimana mungkin Poho yang kuning itu bisa disama-samakan dengan saya? Dimana martabat saya?Tapi itu setidaknya lebih baik daripada yang ia tulis adalah “kaocacantikkayakpoho”. Melihat senyumnya yang lepas, seolah ia telah melakukan hal besar, saya balas tersenyum getir dan sedikit protes “kok kaya Poho sih?hiks”. Dia jawab, “iya, poho itu juga cantik”. Saya bingung antara harus tertawa atau mencari tali buat gantung diri(?). Seketika dia kembali ke posisinya. Sepertinya tahu bahwa dia dalam keadaan bahaya. Kemudian meringkuk dan mulai menulis lagi.

Ya. sudah bisa ditebak. Adegan sinetron kembali terulang.
Sekarang dia menulis “bebekcantikkayakayam”. Pukulan telak untuk orang yang kelewat narsis seperti saya. Saya yang tadi sudah melambung dan kemudian jatuh terhenyak masuk ke empang, tiba-tiba mencari jalan raya untuk menggaruk-garuk aspal. Pada akhirnya saya malah tertawa lepas. Menertawakan diri sendiri. Sementara syifa, syifa masih dengan senyum yang sama, senyum yang pantas disunggingkan setelah menerima nobel.

Saya tahu anak kecil penuh kejujuran, mereka tidak bisa berbohong, tapi saya lupa, mereka juga tidak mengenal dikotomi. Terlebih lagi, saya tidak mengerti definisi cantik menurut syifa. Ah, anak-anak… Betapa bersihnya jiwa mereka… *dan tolong, tidak ada kesimpulan: saya kayak bebek. ataupun ayam.

Baiklah. Selamat Hari Anak se-Kecamatan Coblong^^ (?)

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Alhambra Syifa

  1. isil says:

    hahahha…syifa..syifa
    kamu sangat pintar…
    dan kesimpulan itu langsung terbuat setelah baca tulisan mu ini ca..heheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s