Gravity

Jika Anda mengingat betapa terkenalnya eksperimen tak sengaja Newton dengan  apelnya, maka sejak Einstein mengumumkan teori relativitas umum di awal abad ke-20, mau tak mau konsep gravitasi Newton tergantikan, walaupun masih dipakai untuk beberapa kasus. Tapi –tentu saja- tak ada yang menggantikan kemahsyuran apel Newton. Kesemek sekalipun 😛

Gravitasi tidak lagi dipandang sebagai gaya, melainkan konsekuensi dari kurvatur atau kelengkungan  ruang dan waktu. Sebenarnya akan lebih mudah bagi siapa saja memahami prinsip Newtonian yang sederhana. Ruang dan waktu absolut. Selesai.

Tapi ternyata  konsep Newtonian tidak cukup untuk menjelaskan semua fenomena alam semesta, maka muncullah Einstein sebagai revolusioner. Pendapatnya tak sejalan dengan konsep gravitasi Newton yang tak ubahnya sabda nabi saat itu. Menurutnya, ruang dan waktu tidaklah absolut, tapi relatif.  Namun, yang patut dicatat, postulat sekaliber hasil pemikiran Einstein pun masih punya kemungkinan untuk gugur.

Postulat ini dibangun atas asumsi bahwa tidak ada satupun materi bermassa yang memiliki kecepatan sama atau melebihi celerity (c) atau kecepatan cahaya. Jika ada, gugurlah si postulat. Walaupun sejauh ini, memang tidak ada materi bermassa yang bisa dipercepat mendekati kecepatan cahaya. Yah, yang bisa saya simpulkan sejauh ini adalah, otak Einstein luar biasa cantik, ia telah berhasil mendandani fisika dengan imajinasi. Lihat saja salah satu dampaknya, dengan konsep dilatasi waktu, siapa saja bisa lebih percaya diri berandai-andai melakukan perjalanan antariksa dengan waktu yang lebih cepat, kemudian pulang ke bumi beberapa tahun lebih muda. Siapa yang tidak tergiur coba? Saya tidak tergiur sih, ini menakutkan.

Geocentric vs Heliocentric

Sebenarnya yang ingin saya sampaikan adalah, pertama, terlalu banyak hal yang belum dan mungkin tak akan pernah kita ketahui. Kedua, terkait justifikasi sains, apa saja yang kita anggap sudah benar bisa saja salah suatu saat. Sains punya keterbatasan dalam mengkonfirmasi fenomena alam semesta.  Dulu, Aristoteles *cmiw* bilang bahwa secara fisik bumi adalah pusat alam semesta, maka tak ada satupun yang berani membantah. Seketika semua orang percaya. Lalu Copernicus, dan setelah itu Galileo memindai kecacatan pada teori geosentris Aristoleles, bumi bukanlah sentris, semua planet mengelilingi matahari, maka mataharilah pusat alam semesta. Tahu apa dampak pembangkangan ilmiah ini?Yap. Copernicus dan Galileo harus dihukum karena tak sejalan dengan pendapat gereja yang notabene sudah berabad-abad, sejak zaman kucing makan rumput(?),saya menyebutnya : Aristotelean fanatik. Tapi pada akhirnya, Aristoteles, pun Copernicus dan Galileo harus gigit sandal masing-masing. Geosentris dan Heliosentris menurut sains adalah suatu kesalahan. Tak lebih. Setelah satelit Hubble diluncurkan, pelan-pelan misteri alam semesta terkuak, matahari bukanlah pusat, yang seperti matahari sangat amat banyak di seluruh penjuru jagat. Dan secara fisik, matahari dan aproksimasi 300 milyar bintang lainnya berpusat pada pusat galaksi Milkyway. Dan galaksi-galaksi itu secara fisik, berpusat pada sentris Alam semesta, ntah apalah itu.  Materi-materi penyusun galaksi  inilah yang membuat ruang dan waktu melengkung. Untuk gambaran sederhananya, lihat saja bumi, kelengkungan yang dibentuk bumi, cukup untuk membuat bulan mengitarinya, dan kelengkungan yang dibentuk bulan, cukup untuk mengakibatkan pasang surut di bumi.

Expanding Universe

Tak hanya itu, Hubble menemukan adanya pergeseran Doppler dari spektrum antargalaksi . Hubble mendefinisikan perbandingan proporsional antar pergeseran merah galaksi jauh dengan jaraknya. Ini dikenal sebagai parameter Hubble. Maka berubah pulalah pandangan orang-orang yang menganggap bahwa alam semesta statis. Bahkan Einstein sekalipun, yang sempat-sempatnya memasukkan konstanta kosmologis ke dalam persamaannya untuk mengakomodir kestatisan alam semesta. Sang legenda akhirnya mendepak konstanta kosmologis dari persamaannya dan mengakui -dengan kerendahan hati- bahwa menyisipkan konstanta ini adalah hal terburuk dalam kariernya. Semesta tidak statis, tapi mengembang diakselerasi. Yang apabila diekstrapolasikan maka semuanya bermula dari Big Bang, sebuah ledakan besar saat T=0, dari sesuatu tak bervolume, namun dengan densitas tak terhingga. Yap, alam semesta berawal dari sesuatu yang “tak ada”, kawan.. dari sesuatu yang “tak ada” lah bermula  ruang dan waktu. Dark energy sempat disebut-sebut oleh astronom sebagai energy yang bertanggung jawab atas ekspansi ini.

Antropocentric

Inilah yang cukup berkontribusi mengacaukan semuanya di benak saya.  Begini, cahaya matahari yang kita lihat, berasal dari 8 menit yang lalu. Lebih jauh lagi, cahaya bintang terjauh yang kita lihat berasal dari masa lalu terjauh yang masih bisa kita indra. Bisa jadi jutaan tahun yang lalu. Maka di belahan bumi malam, siapapun yang melihat langit, melihat bintang terjauhnya, akan melihat masa lalu. Pun sebenarnya, jika matahari tak bersinar saat siang, siapapun yang melihat bintang terjauhnya dibelahan bumi siang, akan melihat masa lalu. Maka siapapun di bumi ini, jika melihat ke langit terjauh, akan melihat masa lalu. Lalu semesta tidak statis, tapi mengembang diakselerasi, berarti mau tak mau waktu juga mengembang bersama semesta. Huaa yang benar saja. Itu maksudnya apaaa?

Lantas apa definisi “present”? Dengan bodoh, saya coba bilang, bahwa “present” relatif tergantung  siapa subjeknya. Definisi saya tidak bisa lebih pintar daripada ini. Huks. Maka yang menjadi pusat, adalah manusia itu sendiri. Lalu apa definisi “future”? Yang bisa saya katakan hanya : masa depan adalah misteri.  Ah, pasti Anda menganggap saya menganut paham antroposentris? Tidak. Bukan seperti itu. Saya tak menganut paham apapun. Dalam hal ini , saya netral.

Bisa dibilang, antroposentris adalah paham paling primitif sekaligus paling modern. Jauh sebelum geosentris lahir, antroposentris telah lahir lebih dulu. Ia bereinkarnasi di zaman modern sebagai paham paling positif sekaligus paling negatif. Positif karena ia menyokong inisiasi zaman ecozoic, bahwa manusia sebagai pusat semesta paling berperan dalam menjaga lingkungan. Namun menjadi negatif karena alasan sebaliknya, manusia sebagai pusat semesta bebas berbuat apa saja, karena memang semuanya diciptakan untuk manusia.  Namun agaknya, antroposentris dan derivasinya adalah paham yang bertumbuh seiring dengan peradaban anak manusia. Sadar atau tidak sadar. Mungkin hanya berbeda istilah, berbeda tampilan, berbeda motivasi, berbeda maksud dan tujuan. Dalam ekonomi, dia kadang disebut liberal kapitalisme. Dalam hukum, dia menjelma hak azasi. Dalam seni, dia diberi istilah kebebasan berekspresi. Dalam psikologi, kadang disebut egois, pragmatis, atau individualis. Dalam filsafat, dia disebut idealisme subjektif. Dalam sejarah, ia mampu melahirkan revolusi prancis, melahirkan modernisasi sekaligus hedonisme. Dalam astronomi sekalipun, antroposentis begitu kentara. Anda akan mengerti jika anda mengikuti kuliah astronomi lingkungan seperti saya, dan mendengarkan materi Planet Ekstrasolar (Exoplanet), Kehidupan Ekstrasolar (Exolife), Terraforming atau Planetary  Engineering. Uh, sumpah menyenangkan.

Saya juga jadi tertarik mengutip pertanyaan seorang teman. “Ditemukan planet kesembilan, kesepuluh, atau kesebelas pun rakyat miskin di indonesia ga akan berkurang. Isu astronomi lebih dari sekadar amat-mengamat, tetapi gimana bisa bermanfaat bagi manusia dan dunia. misal, gimana caranya mendapatkan barang tambang dari bulan *ada gak sih?*”  Terdengar antroposentris sekali bukan? Maka menurut saya, “bermanfaat” tidak sesempit “bisa ngasih makan” atau “ngurangin orang miskin”. Banyak dimensi lain. Astronomi memberi pencerdasan bahwa manusia bukan hanya makhluk bumi yang menempati puncak piramida makanan, tapi manusia yang punya kesadaran kosmik, bahwa ia punya “porsi” dan “tanggungjawab” di alam semesta, hingga akhirnya muncul kesadaran tentang Tuhan, tentang filosofi hidup,dan sejenisnya. Menurut saya ini jauh lebih penting. Lebih dari sekedar menemukan barang tambang.

…..

Ah, sesungguhnya saya bingung dengan semua ini.  Alam semesta begitu misterius. Makanya ia mudah sekali membuat saya jatuh cinta. Ia tak sampai di logika saya. Tentu saja, karena logika manusiapun termasuk ciptaan Pencipta.  Walaupun menurut Berkeley dalam idealisme subjektif, yang adalah realitas hanyalah logika, ide, dan sejenisnya, sertamerta semua materi dan alam semesta hanyalah produk sampingan dari logika, tapi saya lebih percaya bahwa logika hanya bagian semesta, yang diciptakan untuk menstrukturkan pikiran manusia. Manusia adalah salah satu entitas semesta,  terikat dalam ruang dan waktu. Maka mana bisa menjangkau logika Pencipta, yang bahkan tidak punya tendensi terhadap ruang dan waktu. Maha Agung Allah, Rabb saya, Rabb semesta.

Wallahualam, saya sotoy,jika saya salah, mohon koreksinya. semua kesalahan mutlak karena kesotoyan saya. Jadi tolong beri saya pencerahan T.T

Ya ampun, ngomong-ngomong kenapa saya memikirkan ini? Saya kan anak TI yang  sedang TA. Harusnya saya berkutat dengan pembobotan KPI, penentuan critical success factor, identifikasi proses bisnis inti, dan metode apa yang akan saya gunakan dalam analisis dan evaluasi risiko. Hua. Huks.

Tapi astronomi memang mengalihkan dunia saya.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Gravity

  1. rachavidya says:

    yg geosentris ingetq ptolomeus, tp g ykn juga, dah lama bacanya,, saya suka bag logika adalah alat menstrukturkan pikiran manusia.. Nice info ttg ksalahan einsteinya, jd inget ada jg org yg menyesal menetapkan konstanta d masa kelahiran quantum, bidang dmana einstein kalah telak oleh bohr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s