Kamu bukan?

Kamu bukan, lelaki kecil penarik lori itu?

Yang sandal jepitmu tipis digerogoti rel mati?

Yang tubuhmu bau hangus dijilat matahari sepanjang siang?

Yang lalu hidungmu saban hari penuh debu?

Yang kemudian orang-orang membayarmu seribu-dua ribu?

Yang kadang-kadang uangmu akhirnya dipalak pula tak bersisa?

Kamu bukan, lelaki kecil penyeret lori itu?

Yang terpaksa berhenti sekolah agar dua adikmu saja yang sekolah?

Yang akhirnya menyeret lori saja karena kau putra pertama?

Yang menabung untuk membantu ayahmu yang hanya tukang parkir dengan gaji sebulan dua ratus lima puluh ribu?ah, kubilang dia sangat kontras di komplek pertokoan orang kaya itu.

Kamu bukan, lelaki kecil penarik lori itu?

Yang rel mati bagimu tak ubahnya mata air?

Yang lori untukmu adalah penyambung hidup?

Yang di rodanya itu kau titipkan separuh jantung, separuh paru-paru?

Yang maka pada derik putaran roda lori itu seperti kau dengar nafasmu sendiri?

Kamu bukan, lelaki kecil penarik lori itu?

Yang dari tadi aku heran kenapa bisa-bisanya harus kau yang menarik lori?

Yang dari tadi aku kagum padamu

Kamu bukan?

Aku hanya ingin bilang, jangan terlalu kau harapkan janji-janji orang di sana

anggap saja angin lalu

Yang jelas, rel mati tak akan pernah mengkhianatimu.

Tak akan.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s