meracauceracau

Dulu, waktu saya masih kecil, saya pernah bertanya pada ibu saya, bagaimana rasanya berada di dalam kubur.Waktu itu saya sedang demam tinggi. Maka ibu saya itu, orang yang ditetapkan untuk selalu menjadi yang nomor satu khawatir ketika saya sakit, langsung berubah air mukanya. Dia mungkin berpikir saya akan meninggal dalam usia yang sangat muda. Maka dia elus kepala saya dengan frekuensi lebih tinggi dari sebelumnya. Kalau tidak salah, dia bilang di kuburan itu gelap sekali, tapi anak baik akan bercahaya kuburannya, seperti ada lampu di dalamnya. Dia bilang begitu seolah-olah dia sudah punya pengalaman. Tapi saya percaya saja padanya, karena dia ibu saya. Karena saya tau dia mungkin tau dari nenek atau kakek saya, atau guru mengajinya, atau ceramah di TV, atau sejenisnya. Dia mungkin berpikir saya meracau karena panas yang tinggi. Dia tidak tahu, kalau saya sungguh-sungguh menanyakan itu.

Demam yang tinggi membuat saya merasakan ketidaknyamanan luar biasa. Maka jiwa kanak-kanak saya berpikir sedemikian rupa,mencari tahu dimana tempat yang bisa membuat saya menjadi nyaman. Saya beri bocoran, jiwa kanak-kanak umumnya memindai segala sesuatu secara sempurna bipolar. Jika tidak baik, maka jahat. Jika tidak senang, maka sedih. Tidak ada yang abu-abu. Sesimpel itu. Maka itu yang saya rasakan. Dan itu kenapa, anak kecil di seluruh dunia akan rewel jika sakit. Sakit ya sakit. Tidak ada berpura-pura kuat. Tidak ada “kenikmatan” dalam sakit. Tidak ada “sabar” menahan sakit.

Itu kenapa saya tanyakan tentang kuburan pada ibu saya. Saya juga mau tanya tentang tinggal di awan sebenarnya, tapi saya tau itu tidak mungkin. Sebenarnya, dari saya kecil, waktu saya masih amat kelewat polos, saya berpikir kalau tempat paling nyaman itu adalah langit sewaktu malam. Bahkan sampai sekarang, saya masih merasa itu benar. Hahaha. Konyol. Padahal saya tau benar kalau langit adalah wilayah ekstrim, sama sekali tidak memaafkan kesalahan. Saya bisa mati pelan-pelan karena radiasi kosmik, atau radiasi dari sabuk magnetik bumi, saya bisa tidak karuan gara-gara microgravity, saya bisa mati konyol dihantam sampah antariksa ukuran beberapa mili dengan kecepatan 72 km per sekon. Dan yang sejenis itu bukan barang langka di sana. Jangan jauh-jauhlah, bahkan saya bisa saja mati kekurangan oksigen hanya beberapa ribu meter di atas permukaan laut. Tapi tetap saja, saya masih berharap langit adalah tempat yang nyaman.

Seiring dengan semakin dewasanya saya, cara pandang sempurna bipolar makin lama makin kabur. Tidak ada yang sempurna positif atau negatif. Semua pada hakikatnya netral, menjadi seberapa positif atau negatif benar-benar tergantung sudut pandang. Mari beri apresiasi pada Hurwicz yang secara tidak langsung membantu saya menjelaskan ini. Pada saat golongan Maximax bisa sempurna optimis, maka Hurwicz memberi solusi untuk orang-orang seperti saya, yang terombang ambing antara optimisme dan pesimisme. Hurwicz –menurut saya- dengan sangat bijak memperkenalkan alpha sebagai koefisien optimistik. Sempurna optimistik, bukan tidak baik, tapi golongan ini terlalu percaya diri, beranggapan bahwa semua sistem dalam semesta dirancang human-centered. Hurwicz datang memperkenalkan optimisme sebagai sesuatu yang probabilistik, bervariasi dari nol hingga satu. Ini lebih manusiawi. Hal ini karena manusia, walaupun punya power, bukanlah pusat sistem, tapi hanya bagian dari sistem. Dalam induksi yang lebih general, etika manusia hanyalah bagian sangat kecil dari etika semesta.

Oh, terlalu jauh. Baiklah kita kembali kepada ibu saya. Ibu saya itu, yang dia beruntung pernah mengaji, yang dia pernah mendengarkan ceramah tentang alam kubur, maka dia bisa selamat saat saya menanyakan hal itu. Padahal saat dia mengaji, dia pasti tidak pernah terpikir bahwa suatu saat putrinya bisa saja bertanya-tanya. Andai dia tidak bisa jawab, saya tau bagaimana sangat tidak enak rasanya. Saya ceritakan sedikit, adik saya, sewaktu dia lebih sangat ingusan daripada sekarang, pernah bertanya pada saya tentang warna terompet malaikat Israfil. Maka saat itu, alih-alih menjawab, saya malah menertawakannya dengan sungguh-sungguh. Dia mungkin menganggap saya bodoh. Padahal saya hanya tidak tahu bagaimana cara menjelaskan padanya, dalam bahasa anak-anak, tentang apa gunanya dia tau warna terompet malaikat. Andai ibu saya juga tertawa pada saat saya bertanya, maksud saya tertawa seperti saya menertawakan adik saya: sungguh-sungguh dan penuh penghayatan, pastilah saya akan sangat sedih. Tapi ibu saya tidak tertawa. Ah, biarkan saya memuji, betapa luar biasanya ibu saya itu. Pantas saja ayah saya jatuh cinta.

Oke, dalam rangka menjawab dimana kah tempat paling nyaman, ibu saya memberi tau satu alternatif. Dan saya juga punya alternatif lain, yang tak lain adalah langit malam. Tapi setelah berkelana kemana-mana (?), kesimpulan saya jatuh pada, bahwa tempat ternyaman dalam kehidupan ini adalah di dalam diri saya sendiri. Kenyamanan adalah saat saya mampu memahami bahwa kenyamanan itu adalah sesuatu yang diciptakan, bukan dicari. Dan hanya saya lah yang bisa menciptakannya untuk saya, bukan orang lain. Kenyamanan adalah ketika saya mampu memahami diri sendiri dan memahami betapa pentingnya memahami diri sendiri(?). Rasul saya Yang Mulia, *salam ‘alaik* bahkan menyebutkan, siapa yang mengenali dirinya akan mengenali Tuhannya. Begitulah kesimpulannya.

Maha Agung Tuhan yang telah menciptakan ibu saya, menciptakan saya, dan menjadikan saya sebagai anak ibu saya.

#dwiyosha, yang sedang menikmati stress.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to meracauceracau

  1. wah, menyenangkan sekali membaca tulisan anda 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s