Muntingia Calabura

Hanya dalam satu dekade, zaman telah berubah banyak. Saya merasa sangat tua jika membandingkan masa kecil saya dengan anak-anak sekarang. Seperti terpisah beberapa generasi (terlepas dari efek menghabiskan masa kecil di pelosok). Sekarang anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di depan komputer, mengeksis di jejaring sosial, menggarap game online atau apalah. Yang jelas bukan bermain engklek. Bukan menangkap ikan-ikan kecil di selokan. Bukan main masak-masakan. Bukan hujan-hujanan atau main tanah. Apalagi bergelantungan di pohon. Menyenangkan. Seperti tarzan.

Adalah saya. Yang seperti tarzan itu. Saya kecil, yang setelah pulang sekolah langsung memacu sepeda kecil saya, berkeliling-keliling kampung dengan anak-anak tetangga. Berburu pohon kesenangan kami. Memanjati dahan-dahannya, memetik satu-satu buahnya yang ranum.

Ia adalah pohon masa kecil saya. Orang-orang menyebutnya kersen. Ada juga yang menyebutnya seri. Pohonnya rendah, daunnya kecil-kecil dan rindang. Hingga biasanya perdu ini jadi pohon untuk berteduh. Di beberapa sela tangkai daunnya muncul bunga putih kecil atau buah hijau kecil. Jika matang, buah itu akan berwarna kekuningan mengkilat dan lama-lama menjadi merah segar. Burung-burung vegetarian (?)gemar memakan buah kersen karena rasanya yang manis. Burung-burung yang –maaf-punya hobi buang kotoran sembarangan ini punya andil besar hingga pohon kersen bisa tumbuh dimana saja. Di pinggir jalan. Di hutan. Di selokan. Di pinggir kali. Bahkan di pinggir tebing atau di lembah yang sangat curam*sotoy*.

Entah kenapa saya merasa pohon kersen terlihat ramah dan bijak(?). Ia tipikal pohon yang dicintai anak-anak(?). Aromanya yang khas selalu mengingatkan saya pada masa kecil, saat saya masih imut-imut. Bentuk dahannya yang bersahabat seperti sengaja diciptakan untuk memfasilitasi hobi anak-anak yang kurang beradab :memanjat dan bergelantungan. Batangnya terlihat rapuh, tapi cukup kuat untuk menahan tungkai-tungkai kecil kami yang menitinya, lebih dari kuat untuk menahan lengan-lengan kami yang berayun-ayun dibawahnya. Kadang dahannya berderak, menurut saya ini caranya mengapresiasi hobi kami, semacam bentuk rasa hormat, maka kami akan semakin menjadi-jadi.Apalagi saya pribadi selalu merasa tertantang meraih buah kecil merah yang biasanya terdapat di ujung dahan. Dalam keramahannya, saya merasa pohon kersen seperti sedang mengajari saya untuk pantang menyerah (dan menjaga keseimbangan tubuh.haha).

Kami memetik satu per satu kersen yang matang. Dengan riang gembira penuh suka cita. Seolah kersen adalah makanan pokok. Kami tidak langsung memakannya, tapi mengantonginya lebih dulu. Dan sesi terakhir dari pesta kersen adalah mengumpulkan hasil petikan kami di bawah pohonnya. Lalu membaginya sama banyak. Tak peduli siapa yang memetik lebih banyak. Pertama, membagi yang berwarna merah, kemudian yang kurang merah, hingga yang berwarna kekuningan. Jika berlebih, maka kersen itu diberikan untuk yang lebih lihai memanjat. Begitulah aturannya. Dalam keramahannya, saya merasa pohon kersen seperti sedang mengajari saya untuk berbagi, mengajari saya rasa tulus, mengajari saya kesetiakawanan. Kersen memang pohon yang bijak. (?)

Karena obsesi saya pada pohon kersen, saya pernah menanamnya di belakang rumah. Tapi pohon itu tak sempat berbuah. ia harus luluh lantak saat ada pembangunan. Sejak beranjak SMP, saya sudah meninggalkan hobi berburu kersen. Sensasi berburu kersen hidup lagi ketika saya menginjak kampus gajah. Beberapa pohon kersen tumbuh berbaris di sisi Campus Center. Begitu menggiurkan. Entah kenapa saya merasa ia tumbuh di tempat yang salah. Seperti kesepian di tengah keramaian. Tiap hari memang banyak mahasiswa yang lalu lalang, tapi siapa yang peduli padanya? Ia mungkin saja rindu dihinggapi anak-anak. Rindu tungkai-tungkai kecil menginjaknya. Rindu mendengar tawa anak-anak yang bahagia memetik buahnya. Ia benar-benar tumbuh di tempat yang salah, apalagi di tengah-tengah rumput yang terlarang untuk diinjak.

Saya mengerti kerinduannya, maka beberapa kali saya menyengaja lewat campus center untuk sekedar mengintip kalau-kalau ada buahnya yang ranum dan memetiknya.Kok bisa cha?Kan ga boleh nginjek rumput? Jangan salah, beberapa kali saya dipergoki dan ditegur satpam, “mba, ga boleh nginjek rumput” (sambil senyum-senyum melihat pose konyol saya menarik-narik dahan kersen). Saya cuma bisa cengar-cengir dan berkilah bodoh “ga nginjek rumput kok pak”. Padahal jelas-jelas saya menapak tanah. Si bapak satpam cuma bisa geleng-geleng, ntah apa yang dia pikirkan tentang saya. Biarkan saja. Belakangan dahan kersen yang rendah rutin dipangkas. Dan saya tidak bisa lagi menyalurkan hobi. Hiks

Saya sedih jika anak-anak tak lagi mengenalinya, jika pembangunan semakin tak manusiawi, semakin banyak tanah-tanah yang dibeton hingga ia tak dapat tumbuh. Semoga suatu saat saya punya halaman belakang yang luas hingga ia, pohon masa kanak-kanak saya, bisa tumbuh bebas dihinggapi anak-anak. Tetap mengajarkan untuk pantang menyerah, mengajarkan berbagi, mengajarkan rasa tulus, mengajarkan kesetiakawanan, mengajarkan untuk cinta lingkungan dan menjaga keseimbangan ^^

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Muntingia Calabura

  1. saya says:

    wah, ternyata kamu punya sejarah tersendiri ya sama kersen.. baru nyadar. hehe

    iya bener sekarang pohon yang deket CC dah dipotongin terus jadi tinggi dahannya, ckck.

    hmm,, ternyata bener ya, hikmah itu benar2 bisa menular kuat, walo hanya dengan masa yang (sangat) singkat.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s