polinomial nomenclature

Angin kemarau yang kering di penghujung Juni 21,5 tahun silam sama sekali tidak mempengaruhi suasana hati seorang ibu di sebuah kelurahan yang nyaris terpencil, di kota yang nyaris terpencil. Buriaman nama kota itu *Bukan nama sebenarnya*. Sebuah kota pesisir kecil yang panasnya bukan main, mengakibatkan penduduknya menjadi terbiasa mandi sepanjang hari. Mandi keringat.

Ibu yang tengah hamil tua tersebut sedang senang tak kepalang bercampur harap-harap cemas menunggu kelahiran anak keduanya. Bukan lagi menunggu hari. Tapi jam. Di rumahnya, ia ditemani ibunya menunggu sang suami yang tengah menjemput bidan untuk membantu persalinan. Ya, ia ingin semua anaknya lahir di rumah, bukan di rumah sakit.

Karena ditakdirkan menjadi penduduk di kelurahan yang nyaris terpencil, di kota yang nyaris terpencil, maka harap maklum, ibu yang tengah hamil tua ini sama sekali tidak mengenal teknologi ultrasonografi. Dia sama sekali tidak tahu jenis kelamin anak keduanya. Tapi dari hatinya yang paling dalam, ia dan suaminya berharap anak kedua mereka berjenis kelamin laki-laki, hingga lengkaplah anak mereka sepasang. Anak pertama perempuan dan anak kedua laki-laki. Bahkan ia dan suaminya jauh-jauh hari sudah menyiapkan sebuah nama laki-laki paling indah untuk anak keduanya kelak.

Tuhan berkehendak lain.Anak keduanya kelewat agresif. Bayi itu keluar sendiri sebelum bidan datang. Maka sang ibu dan ibunya, wanita dua generasi tersebut shock dan panik bukan main menyaksikan si bayi terlahir sendiri dengan mudahnya. Dan sekarang, ibu dari si ibu, lebih panik lagi karena ia tidak tahu apa yang harus dilakukan, dia sama sekali tidak punya pengalaman memotong tali pusar. Maka alangkah lucunya jika membayangkan scene yang melibatkan 3 tokoh 3 generasi itu, ibu yang lemas dan panik habis melahirkan, ibu dari si ibu yang juga panik tak tahu harus berbuat apa, dan si pendatang baru yang menjerit-jerit tak berperasaan.

Bayi itu perempuan. Bukan laki-laki seperti keinginan orangtuanya. Tapi siapa peduli laki-laki atau perempuan, sang ayah sudah sangat bersyukur anak dan istrinya selamat. Ia sudah terlanjur luluh melihat bayi perempuan NORMAL yang keluar dari rahim perempuannya. Apalagi bayi perempuan yang kuat itu, yang “lahir sendiri” itu, membuatnya mendapat korting biaya persalinan. Ia memang sudah menyiapkan nama laki-laki. Tapi tak masalah. Setelah berpikir alot dan menimbang-nimbang maka akhirnya ia namai anak perempuan keduanya Dwi Yosha Fetri Yuna. Semilyar kali terdengar lebih indah daripada Jonny Yarman, Saya ulang, J-O-N-N-Y Y-A-R-M-A-N, nama laki-laki yang telah disiapkannya. Nama yang diidam-idamkan sang ayah, terinspirasi dari film india yang sedang naik daun di jamannya. (anda bisa menebak betapa saya sangat bersyukur terlahir sebagai perempuan kan?bukan apa-apa. Tapi Jonny Yarman bukan nama yang manusiawi, teman. Yaikss).

21.5 tahun telah berlalu. Dan Dwi Yosha Fetri Yuna bukan nama yang mudah. Banyak yang kesulitan mengeja nama ini. Di ijazah SD berubah menjadi Dwi Yosha Feterti Yuna. Kemudian berubah menjadi Dwi Yoshafetri Yuna berkat kebijaksanaan guru SD yang membenarkan ejaan yang salah sebelumnya. Gali lobang tutup lobang. Masih banyak yang salah mengeja nama ini, hingga sekarang.

Dewi Yoshafetri Yuna, Dwi Yoseha Fetri Yuna, Dwi Yoshaferina, Dwi Yosha Fitri Yuniar, Diwi Yosefa(guru biologi saya di SMA mengabsen saya dengan nama ini selama satu tahun penuh. Dan saya pasrah), Dwi Yosfarina, Dwi Yosefina, Dwi –siapa ini?-, dan masih banyak lagi..

Haha. Ada ada saja. Saya tertawa geli ketika ingat ayah saya mengisahkan cerita ini. selesai.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

8 Responses to polinomial nomenclature

  1. adjie says:

    haha, nice banget cha tulisannya. bikin ketawa di awal pagi ^^
    saya juga suka mengalami hal yang sama masalah penyebutan nama, aji? ajie? adji? bukan2, saya ADJIE. huff, berasa lahir di jaman dulu -_-“.
    ternyata akhir2 ini saya baru tau nama ADJIE ada asal usulnya juga loh, kenapa bukan AJI seperti NORMALnya. hehehe

    anyway, ditunggu tulisan selanjutnya cha, hoho

  2. rosi says:

    sepakat. menghibur banget tulisan kamu cha! ^^
    banyak jg orang yg mengeluh terlahir sbg perempuan, tapi kamu pasti bersyukur banget ga jadi dikasi nama Jonny Yarman..

  3. ???? says:

    hahaha,,jonny yarman

  4. micelia says:

    kakak ce juga bersyukur ga terlahir jadi cowok, rencananya jadi Micelio, yaiks.. nama itu juga ga manusiawi (IMO) haha

  5. mimmy says:

    bagus chaa^^

  6. rachavidya says:

    Jonny yarman 😀

  7. isil says:

    hag..hag..hag…(tertawa guling2)
    sumpah cin juga baru tahu tentang si jonny yarman itu…

    pasti sangat perkasa kalau dirmu jadi cowok ya say…
    hehehe…
    tapi tetep bersyukur ga cowok cha, kalau cowok pasti cin ga diperbolehkan nginap dikosan mu…

  8. Megariza says:

    Ternyata salah tulis nama di ijazah SMP-ku menjadi Mega Riza, masih tak seberapa cha.. Tapi bersyukurlah kamu masih punya nama dengan dua kata, hoho..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s