antara saya, televisi, dan cacimaki

Pertama, ketika saya pulang ke rumah saat liburan, saya bersedih hati mengetahui kenyataan bahwa orang di bawah atap rumah saya terlihat begitu menikmati sinetron. M***, (bahkan *a** juga ikut-ikutan) seolah tidak bisa diganggu gugat jika sedang menonton sinetron favoritnya, kalau tidak salah judulnya “cinta minul” eh “cinta buta” eh “beranak dalam k*b*r”, ya, sejenis itulah. Bahkan saya curiga salah seorang di antara mereka meneteskan air mata untuk scene-scene mengharukan yang didramatisir sedemikian rupa.

Sebagai seorang yang lahir setelah satu setengah abad sejak Henry dan Faraday secara tak langsung memulai awal era komunikasi elektronik, dan dua setengah dekade setalah prototype televisi dimunculkan pertama kali *ah,terlalu berteletele*, intinya sebagai seorang yang menjunjung tinggi moral, sains, dan teknologi, maka bagi saya ini adalah malapetaka. Dan saya dengan senang hati akan meluangkanbeberapa menit untuk mengkritisi selera mereka.

#setelah dialihbahasakan#

Saya: ih pada nonton apa sih???

**m*:……………………….

Saya:ya ampoon, masa yg beginian ditonton?heran deh..

**m*:………………………….

Saya: tuh kan, tuh kan, pasti alay, masa ada orang yang mau-mau aja digituin?pembodohan.

***a:………………………….

Saya:Hahaha, ampun deh…hahaha..cerita macam apa ini…hahaha

***a:………………………….

Saya:Hadoooh,tuker ah.tuker ah.

***a: bisa diem aja ngga sih?

Saya:owh,yah,baiklah..

Kedua, saya heran kenapa rata-rata sinetron yang pernah secara TIDAK SENGAJA saya ketahui bercerita tentang hal yang sama, cinta segibanyak, cinta yang tidak mendapat restu orangtua, harta warisan, dan tentang wanita pasrah yang seperti terlahir untuk disiksa dan mengalami percobaan pembunuhan hampir di tiap episode. * TIDAK SENGAJA? kok tau banyak cha?*. Yup, scene-scene penganiayaan dan percobaan pembunuhan : ini benar-benar membawa efek buruk pada saya,maksudnya pada kelenjar pankreas dan anak ginjal saya. Selain tentu saja, efek tak baik untuk psikologis, seperti mimpi buruk dan sejenisnya.

Faktanya, Stasiun televisi tidak akan mempertahankan programnya jika program tersebut tidak menunjukkan performa yang baik, artinya ia harus punya rating yang tinggi, ia harus ditonton oleh sangat banyak pasang mata. Dengan rating yang tetap tinggi, maka jadilah sebuah program selalu disiarkan, bermusim-musim, bahkan kadang-kadang serasa menemani tumbuh kembang saya dari masa ke masa. Dan ada pertanyaan besar dalam otak saya, kenapa tema “cinta segibanyak, cinta yang tidak mendapat restu orangtua,harta warisan, dan wanita pasrah yang disiksa” selalu menjadi favorit sejak dulunya?ada apa ini?apa yang terjadi?apa?apa?

Ketiga, saya teringat televisi di ruang tengah di kosan saya, pelesiran 21. Televisi ini sebenarnya sudah tidak layak tonton, tetapi prinsip zerowaste mengajarkan penghuni lt.4 tentang 1 hal: “manfaatkan apa saja”. Sebenarnya lebih ke “udah untung punya tipi” sih . Dengan efek yang tidak saya mengerti, televisi itu membuat orang-orang yang sedang bermain peran atau sedang menjadi duta iklan terlihat lebih tua 10 tahun karena efek rambut seolah-olah beruban. Dan semua laki-laki disana jadi beberapa kali lebih feminim karena efek bibir kemerah-merahan. Maka terlepas dari kontennya se tidaklogis apa, jadilah apa saja yang ditayangkan di televisi itu lebih mudah berkali kali lipat untuk dicaci maki. Dan seperti belum lengkap hanya dengan dicaci maki, televisi ini bisa normal kembali setelah digebuk-gebuk dengan penuh emosi. Dan saya, salah satu yang terbaik dalam hal gebuk menggebuk. Baiklah, mungkin ini tidak terlalu pantas dibanggakan.

Keempat, saya juga teringat sebuah diskusi di mesjid Salman yang menghadirkan Andrea Hirata sebagai pembicara.. Yang saya sorot adalah komentar Andrea Hirata untuk sebuah pertanyaan. Beliau bilang, tidak bijak rasanya orang-orang(apalagi kalau ia adalah seorang penulis) menuding minat baca orang Indonesia sangat rendah dan memprihatinkan. Buktinya, novel Laskar Pelangi terjual lebih dari 12 juta kopi sejak dirilis. Ini tentu saja mematahkan hipotesa “minat baca rendah”. Jadi bukan salah “minat” baca orang Indonesia, masalahnya buku-buku bergizi sendiri yang langka. Tanya kenapa?jangan tanya saya. Hal yang sama, tidak bijak jika mengkritik tontonan ibu-ibu rumah tangga. Salahnya bukan pada “selera” mereka, tapi memang pilihan untuk mereka tidak jauh-jauh dari sinetron dan infotainment. Terlepas dari mereka bisa melakukan hal lain, tapi jika sedang ingin menonton televisi, mereka tidak punya pilihan lain. Walaupun sekarang memang sudah banyak tayangan-tayangan yang mulai masuk akal.

Maka, dari kisah antara saya,televisi dan cacimaki ini, saya jatuh pada sebuah kesimpulan, bahwa terlalu banyak hal yang harus dibenahi. Terutama otak saya.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to antara saya, televisi, dan cacimaki

  1. amink says:

    say no to sinetron, say yes to awas ada sule dan super family.

  2. saya says:

    haha, bagus cha..^^
    tapi kesimpulan akhirnya aneh deh, hoho

  3. saya juga says:

    Haha, mantap cha. :p

    ^^–> seperti gaya seseorang.

  4. racchanKD says:

    sehati euy
    ini terjadi di rumah saya jugak
    nikah yok, kyanya kita cocok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s