~ e q u i l i b r i a ~

Saya telah lama berkawan dengan kehidupan.

21 tahun. 19 hari.sekian jam sekian menit sekian detik. Tak lama lagi genap seperempat abad.

Mungkin saya memang tidak berhak membangkang bahwa saya telah mencicipi asam garam. Tapi saya merasa bahwa 21 tahun. 19 hari.sekian jam, sekian menit, sekian detik adalah waktu yang panjang, bukan waktu yang singkat untuk telah merasakan secuil asam, secuil garam, sayur-sayuran dan buah-buahan(ga enak kalo ga ngerusak flow).

Sampai detik ini saya masih merasa miskin semiskin miskinnya, banyak sekali waktu yang saya lewatkan dalam kesia-siaan (belum termasuk waktu yang saya gunakan untuk tenggelam menyesali kesia-siaan itu),banyak sekali yang harusnya saya lakukan tapi tidak saya lakukan. Terkadang saya merasa bahwa saya tidak benar-benar mengerti tentang kehidupan, tentang apa yang kehidupan inginkan dari saya. Saya mungkin paham betul dalil-dalil tentang hakikat penciptaan manusia. Tapi saya terlalu bebal untuk memaknainya, untuk mengejawantahkannya ke dalam bentuk tindakan. Atau dalam bahasa yang lebih membumi: saya malas. Haha.

Yah, kehidupan. Apabila kehidupan secara universal didefinisikan sebagai segenap proses-proses yang terjadi di dunia ini. Dan jika semua proses-proses di seluruh jagat dapat dirinci menjadi bermilyar trilyun reaksi-reaksi kimiawi yang lebih detail, lalu pada setiap reaksi kimia, reaktan dan produk selalu mutlak memiliki besaran energi yang sama, dan kehidupan adalah reaksi kimiawi yang simultan,berarti kehidupan yang dijalani manusia adalah suatu sistem kesetimbangan. (orang kimia mungkin akan lebih paham. *orang kimia:”sotoy lo cha”)

Atau jika menilik Hukum Newton III tentang aksisamadenganminusreaksi, dimana aksi dan reaksi selalu absolut memiliki besaran gaya yang sama, dan kehidupan hanyalah kronologikal aksi-reaksi yang sambung menyambung, maka sejatinya semua proses alam raya dibangun atas dasar kesetimbangan.

Dua premis ini cukup untuk konklusi saya yang antigugatan bahwa alam semesta –yang didalamnya ada kehidupan- adalah suatu sistem kesetimbangan yang sempurna luar biasa. Tuhan, yang tak pernah tidur itu, telah menciptakan segalanya tanpa cela. Jauh dari yang bisa manusia kira-kira.

Dalam benak saya kehidupan tak jauh-jauh dari definisi ini. Mungkin karenanya, Tuhan menciptakan segalanya berpasang-pasangan untuk memastikan kesetimbangan luar biasa itu.

Sederhananya , apabila ada keburukan, insyaAllah disana selalu ada kebaikan yang menyeimbangi. Atau pikirkanlah satu hal secara random,apapun, maka hal tersebut selalu punya dua sisi untuk dipandang:potensi kebaikan;potensi keburukan. Yep, kebaikan dan keburukan. Sederhana sekali. Dua hal yang ibu saya ajarkan, yang ayah saya ajarkan, bahkan jauh sebelum saya bisa mengeja nama sendiri.

Jika ada yang bilang hidup adalah pilihan, maka hidup adalah dilemma. Karena adalah absolut suatu pilihan selalu pasti dilematis. Pilihan-pilihan itu, tidak bisa tidak,pasti tunduk pada hukum kesetimbangan: sisi baik dan sisi buruk. Inilah alasan mengapa ketika saya berada pada suatu pilihan sulit, saya selalu berusaha mencoba dengan pendekatan berbeda, berusaha tidak mati-matian memilih yang “terbaik”, yang paling banyak keuntungannya. Lalu ujung-ujungnya menyesal. Ini absurd. Saya hanya berusaha memilih sesuai kondisi hati, maka sisanya, adalah PR saya untuk membuat yang saya pilih tumbuh menjadi yang terbaik bersama saya. Bukan karena satu pilihan itu lebih baik untuk saya daripada yang lainnya, tapi karena saya yang ingin membuat pilihan itu jadi yang terbaik dari yang ada. Ga ngerti ya? saya juga ngga. Sayang sekali.. (terserah lo deh cha -_-‘)

Yah, begitulah kehidupan. Simple. Namun, ketika melihat ke sekeliling, memahami orang-orang, terlebih-lebih memahami diri sendiri, teori kesetimbangan yang sederhana itu terkonversi menjadi kompleksitas tingkat tinggi, acak abstrak, berpilin pilin seperti benang kusut. Dunia seperti telah diisi lebih dari yang seharusnya ia diisi. Manusia dengan karakternya membuat saya mampu melihat milyaran warna.

Saya telah beberapa kali mencoba memahami banyak orang dan diri saya sendiri. Ada orang-orang yang selalu riang, seperti tidak punya masalah, bersemangat, meletup-letup seolah tubuhnya tersusun atas komposisidaging,tulang,darah dan petasan. Sebaliknya ada orang-orang yang terlihat selalu tenang, diam, lesu, atau ntah mengapa tampak seperti selalu kurang sayur. Ada orang-orang yang mimpi dan harapannya seperti tak habis-habis. Ada orang-orang yang mempercayakan harapannya sepenuh hati pada orang lain(seperti seseorang pada Obama contohnya). Ada orang-orangyang menghabiskan hampir sepanjang waktunya untuk menyumpah-nyumpah (seseorang pada calon legislatif), Ada yang menyimpan kecintaan berlarut-larut dalam hatinya(saya pada astronomi), ada yang menyimpan diam-diam larat rindunya yang membuncah (saya pada kampung halaman), ada yang menyimpan hasratnya yang menggebu-gebu, seperti tidak dapat hidup tanpa yang lainnya(saya pada cabe kriting), ada yang bermuka manis tapi sebenarnya menyimpan kebencian dan dendam kesumat (saya pada sinetron). Namunada juga yang seperti tidak peduli pada apapun, hanya acuh tak acuh saja tidak mau ambil pusing(kucing pada sinetron).Tapi berpulang lagi, sekompleks apapun, sebenarnya ia hanyalah wajah lain teori kesetimbangan..

Whatever. Apapun itu, tentang kesetimbangan, tentang konversinya, pada akhirnya siapapun di dunia ini, termasuk saya, tunduk pada skenario Tuhan, sistem resiprokal yang sambung menyambung hingga akhir zaman. Kehidupan mengalir karena “sebab-akibat”. Seseorang lahir, seseorang meninggal, seseorang datang, seseorang pergi.

Saya percaya Tuhan itu ada (yaeyalah menurut loh?), saya percayapada “skenario” itu, dan saya percaya keajaiban sepercaya bahwa mimpi-mimpi saya akan direngkuh Tuhan, diijabahNya suatu saat

Dan saya..

Saya ingin hidup lebih panjang…

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

6 Responses to ~ e q u i l i b r i a ~

  1. der bruder says:

    keseimbangan memang selalu ada dimana-mana . dan dimana mana selalu ada keseimbangan. lelaki dan perempuan. cadas dan lembut. gurun dan samudra. mentari dan rembulan. angan dan cita.

    tetapi dibalik keseimbangan itu pula dunia ini jadi harmoni dan dinamis. orang baik bermunculan karena ada orang jahat. seorang disebut pintar karena ada yang bodoh. atau hal yang cukup absurd adalah adanya tengkulak yang menjajah petani.

    mungkin manusia ingin hidup yang ideal.. tetapi seperti para orang kimia (*mengikuti bahasa di postingan) berkata ,
    “tidak ada gas yang ideal”. begitu pula hidup “tidak ada hidup yang ideal”…

    tetapi orang matematik mengeluarkan simbol “limit mendekati”. jadi hidup kita setidaknya harus menuju atau limit mendekati “ideal”

    cheers,

    hmm,… i like your post^^

    keep inspiring

  2. ice says:

    *ada yang senyum2 ga jelas geregetan (saya pada tulisan k ocha yg saya sgt suka eh, cinta)

    tawazun.. telah terdesain sedemikian rupa segala karyaNya

  3. Imel says:

    Ca.. Rancak bana! Imel sgt suka..sgt renyah(?)
    Ada baikny jika smua tulisan ini dibukukan..

  4. saya says:

    tulisannya bagus cha, banget..

    sepakat sama yang di atas, dibukukan aja cha.. 🙂

    tetep nulis ya,,^^

  5. kamu says:

    dasar plegmatis!(loh??)
    haha,keren..

  6. aku says:

    really miss you everytime i read your writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s