Tutte le strade portano a Roma!

Yuhu!Ga cuma satu jalan ke Roma. Tapi ini ga ada hubungannya sama tulisan saya yang ga penting ini.hahaha.*ga jelas banget idup lo cha*

Well, saya masih percaya kalau saya bertangan dingin (?) walaupun alam tidak menunjukkan tanda-tanda hipotesa saya benar.

Katanya, orang yang sukses itu adalah orang-orang yang bertangan dingin. Kenapa pula dengan “tangan dingin”? yah, kebanyakan istilah memang aneh-aneh. Tapi mungkin pada saat kebanyakan pribumi masih bercocok tanam, mereka percaya bahwa tangan yang dingin bisa membuat bibit tanaman yang mereka tanam tumbuh dengan subur. Kemudian istilah itu mengalami perluasan makna dan digunakan pada keadaan apa saja. Sebenarnya kenapa saya membahas ini ya??siapa juga yang peduli tangan dingin atau engga??

Sebenarnya saya ingin sharing tentang pengalaman saya bercocok tanam(?) ah,bukan. kurang pas istilahnya, maksud saya pengalaman saya memelihara beberapa tanaman.

Dimulai dari ujang.

Ujang adalah nama seekor mawar. Lengkapnya Ujang Jamilah. Ujang adalah mawar ungu cantik jelita yang pernah mekar di masa keemasannya. Kemudian karena buruknya takdir ia dipelihara oleh seorang Dwi Yosha yang menganggap mawar menyukai jus alpukat dan kuah gulai ketupat sayur. Cerdas sekali. Karena mendapat perlakuan yang tidak berperikemawaran, ujang yang malang lambat laun saya percaya telah menjadi mutan, bermutasi menjadi mawar yang memiliki daun kecil-kecil, kering dan tak terurus, pernah beberapa kali mati dan kemudian mencoba untuk hidup lagi. Ia seperti mendapat motivasi setelah beberapa kali disiram kembali dan diajak bersenda gurau (?), dan sekarang, sepertinya ujang sudah benar-benar mati (amin), tidak apa-apa ujang, pilihannya cuma ada dua, isy kariman au mut syahidan(?)

Kemudian, seonggok kaktus kecil, berdaun keungu-unguan,, hah?kenapa?namanya?sayang sekali, dia tidak punya nama permanen, karena setiap kali saya bercengkerama dengannya saya memanggilnya dengan nama yang berbeda. Kadang Partini, kadang Sumanti, kadang Noname dan sebagainya. Penasaran bagaimana nasib seonggok kaktus ini? Tak pernah saya prediksi, bahkan dalam mimpi sekalipun, ia raib entah kemana. Benar-benar menghilang secara ajaib. Tidak mungkin dimakan kucing pastinya. Walaupun seingat saya kucing itu omnivora, tapi tentu saja kucing tidak menyukai kaktus.

Berikutnya Leviosa. Ia adalah kalau tidak salah sebatang Luxonia (bener ga ya?), tanaman berdaun lebar dengan bunga berwarna shocking purple yang sangat anggun seperti saya.. %$&@#Plaakk!!PLAAKK!!pletakk!!pow!pow!%$^… huff.. gitu banget.. oke,lanjut. Lalu bagaimana nasib leviosa? Kami melewati hari-hari bersama dengan bahagia… kepadanya saya ceritakan banyak hal, ia tampak sangat senang. Leviosa benar-benar terlihat seperti menyukai saya, ia tidak marah walaupun saya jarang sekali menyiramnya. Ia tetap anggun, tak berubah sedikitpun. Bahkan pernah suatu saat ia memperlihatkan suatu keajaiban yang membuat saya terkagum-kagum pada diri sendiri(?). Ketika saya pulang dari sebuah acara yang mewajibkan saya meninggalkan kosan selama seminggu, saya shock melihat daun-daunnya layu, dalam keadaan masih berwarna hijau segar. Yah mungkin saja Leviosa kurang air.. tapi rasanya selama ini saya sangat jarang menyiramnya karena saya lihat dia baik-baik saja dan seperti tidak memerlukan air *alibi*, tapi buktinya dia memang tidak pernah layu. Setelah shock melihatnya layu, tanpa berbasa basi pada mertua (?) maka saya menyiramnya. Tak sampai menunggu lama, ia kemudian segar kembali seperti sedia kala, seperti saat saya meninggalkannya seminggu yang lalu. Saya pikir ini keajaiban dari keterikatan hati antara saya dan leviosa. Saya menampik semua penjelasan ilmiah untuk kasus ini. Kemudian beberapa saat yang lalu, mimpi buruk itu datang, leviosa digerogoti hama serangga putih kecil yang membuat batangnya membusuk.hikss… dan perlahan leviosapun mati.. hiksshikss

Dan sampai titik ini, kesimpulannya adalah, bagi kaum environmentalis darah saya halal*lebay berlebihan*

Saya pikir, setelah kejadian memilukan ini karier saya sebagai florist(?) tamat begitu saja, tapi ternyata tidak. Beberapa waktu lalu, icha memberi saya seonggok kaktus, setelah dia memberi saya dua pilihan, kaktus yang berbentuk daun dengan duri-duri halus di seluruh permukaannya atau kaktus keungu-unguan dengan duri brutal yang terlihat amat cadas. Kata Lintang, “uni ocha yang ungu aja, sesuai sama karakter” *PLAAKKK!*. Lintang langsung mengoreksi kalimatnya setelah saya –dengan hiperbolik- memasang ekspresi “bilang-kalo-kamu-becanda!”. Dengan sedikit maksud untuk membuktikan pendapat lintang salah, maka saya pilih kaktus berdaun halus. Heheh.. Kaktus beruntung itu saya namai Rangga Laura. Dan sekarang dia sedang menjalani hidup bersama saya..

Selain memelihara flora-flora langka tak berdaya, sekarang saya sedang mencoba menekuni budidaya fauna(?). Terakhir, saya sedang menikmati peran saya sebagai ibu asuh bagi 3 kepompong lugu yang secara agresif saya ambil dari habitatnya, ipin,upin, dan upil. Saya menanti tiga ekor kupu-kupu cantik beterbangan dengan leluasa di kamar saya. Semoga. Amin.

Yah,begitulah.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

5 Responses to Tutte le strade portano a Roma!

  1. Herz Freund says:

    hmmm.. terkadang memang setiap manusia punya dunia sendiri, khayalan sendiri dan imajinasi sendiri..

    dan tidak ada yang bisa menyalahkan manusia tentang hal itu… unik memang tetapi itulah manusia.. manusia dengan segala pikirannya , ia mampu berpikir “apa yang bisa membuat aku bahagia”

    yep.. and the answer sometimes weird…. that human have its own world that no one could enter…

    kebetulan dwiyosha.. punya dunia indah bersama flora dan fauna nya.. … nice world it is….

    dunia dimana para fauna itu bisa diam kaku dan mendengarkan bahkan berbicara lantang kepada kita, tanpa sadar ujang atau leviosa sudah menjadi bagian dari hari-hari dan malam malam dwiyosha…

    kepompong yaa ??? hmm..kapan jadi kupu – kupu ?? kenapa harus jadi kepompon dulu sih ? ga pegel apa sempit2 di kepompong… hehehe…

    ditunggu ya kabar kupu kupu nya terbang bebas… seperti mimpi dwiyosha yang selalu lepas bebas

    ^^

    publica-
    lummoxes…

    Reichweite für Ihre Träume mit deiner Liebe

  2. abu hanif says:

    semoga anti dirahmati Allah telah menyayangi makhlukNya.
    Dengan kata-kata zalim anti mengajarkan kami memperlakukan lingkungan dengan baik.
    ini mengingatkan ana pada tindakan yang telah membuat trauma beberapa ekor kucing yang sering berkeliaran di sekitar kos. terkadang kucing itu berbuat asusila di dekat pagar sambil ditonton kucing yang lain

  3. Pingback: Celahlangit

  4. racchanKD says:

    ini komen saya knpa ga ada yg nongol, yaa,,
    Saya pribadi jg memelihara bbrp fauna di kamar.
    Semut2 yg saya pakani rutin dg meninggalkan cucian setelah makan. terasa rame jadinya.

  5. bintangkejora says:

    Lucu…Menginspirasi…Menarik untuk diikuti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s