medula oblongata

Sekarang pukul 22.48 di hape saya. Kembali, saya sedang bertransfigurasi jadi sampah yang menghirup oksigen dan beroksidasi. Tak melakukan apa-apa saat saya harus melakukan apa-apa..

Saya berada di Gamais Super Camp (yang setengah mati saya usulkan untuk berubah nama menjadi Gamais Inspiring Camp. Tapi ini sia-sia). Kedatangan saya di sini bukanlah sebagai panitia. bukan juga sebagai peserta. Lalu sebagai apa? cukup sebagai saya saja.

Anyway, GSC bertempatdi sekolah alam,daerah dago, yang lokasinya saya tempuh dengan naik angkot, disambung dengan berjalan kaki di jalan aspal yang kelewat curam sambil berharap dengan sungguh-sungguh saya tidak menggelinding. Tempatnya terbuka ,bisa sepuasnya memandangi malam (tsah!), perlu dicatat, dengan tololnya saya tidak membawa jaket, maka sekarang saya sedang kedinginan.

gara-gara kedinginan saya jadi ingat sesuatu. Apa itu? Sebuah pribahasa anonim “gantunglah cita-citamu setinggi bintang dilangit”(ini pribahasa bukan ya?). menurut saya ada yang salah dengan pribahasa ini. Hellooo??? Bintang itu ga “tinggi”, bung! Ga tinggi. Tapi Jauh..

Tapi ketika mikir-mikir lagi, tak ada yang salah tentang jauh atau tinggi. Ini hanya masalah “frame”.Seseorang, sebut saja “pinky”, yang meramu pribahasa “gantunglah cita-citamu se tinggi blablabla” meilhat dirinya sebagai seseorang di tengah malam, (dan dia amnesia bahwa ada matahari) sehingga baginya bintang itu tinggi. Tapi saya, saya adalah satu spesies di alam semesta, tidak peduli siang atau malam, maka bagi saya bintang itu sangat jauh. Hoho . Ga penting.

Tapi sekali lagi, ini hanya soal “frame” atau cara pandang atau sudut pandang atau apapun saya menyebutnya. Yang layaknya sebuah sudut, ia tergantung pada masing-masing orang, seberapa besar sudut yang mampu ia ia tarik dari acuan nol derajat.

Lalu apa poin saya?poinnya adalah, saya tidak bisa seenaknya men-judge pendapat berbeda dari orang lain adalah salah. Saya dan dia hanya sedang memilki frame yang berbeda. Mungkin saja sudut saya dalam memandang sesuatu lebih kecil, atau saya menarik sudut ke arah yang berlawanan, hingga wajar saya tidak mampu melihat apa yang dia lihat. Maka alangkah baiknya saya mencoba berdiri sebagai dia, menggunakan frame yang sama, berusaha menggunakan “sudut”nya ,masuk ke dalam jalan berpikirnya ,memahami bagaimana cara dia berpikir dan memandang sesuatu,menilai sesuatu dengan cara dia menilainya.Maka saya tak akan punya alasan untuk egois bilang saya benar dan dia salah, maka saya akan punya lebih banyak pertimbangan.. hmm… yah,begitulah…

~Sekolah alam, 27 feb, saat yang lain sudah tak bisa menahan kantuk.

Semoga suatu hari saya bisa punya sekolah seperti ini. Amin.~

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to medula oblongata

  1. ..... says:

    “Kedatangan saya di sini bukanlah sebagai panitia. bukan juga sebagai peserta. Lalu sebagai apa? cukup sebagai saya saja.”>>>ga tau kenapa suka banget kata2 ini..^^

    dasar saya melankolis, terlalu banyak makan, eh, makna yang bisa saya ambil dari tulisan kamu.. anyway, glad to see your post again..n_n

    “Semoga suatu hari saya bisa punya sekolah seperti ini. Amin.”>>>amiiinnnn…

  2. Karafuru says:

    @ ….: Amiiiin…. Smoga sekolahnya bisa dicapai. Doain juga.. Smoga bisa ngebangun ponpes…

    @ Ocha : Alhamdulilah GSCnya lumayan lancar..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s